Pasar Ilang Kumandange, Pedagang Hanya Bisa Berdoa

Pasar Ilang Kumandange, Pedagang Hanya Bisa Berdoa
TUNGGU PEMBELIPedagang mulai menata barang dagangan di los lantai 2 Pasar Tumenggungan. Pengunjung menaiki eskalator menuju lantai 2 Pasar Tumenggungan

KEBUMEN, Radar Kebumen – Hiruk pikuk aktivitas pasar mulai memudar di lantai dua Pasar Tumenggungan. Interaksi antar pedagang dan pembeli sudah jarang ditemukan. Pasar Ilang Kumandange adalah kalimat Jawa kuno yang cocok menggambarkan kondisi di sana.

Para pedagang tidak bisa berbuat banyak atas kondisi tersebut. Selain terus berusaha dan berdoa untuk bisa mengasapi dapur. Barang dagangan yang ditawar calon pembeli memang menjadi sebuah kerinduan. Apalagi bisa laku, tentu sesuatu yang cukup istimewa.Bahkan, tidak sedikit pedagang memilih tidak meneruskan los yang mereka sewa. Ketimbang bertahan dengan sepinya pembeli. Informasi dihimpun, Pasar Tumenggungan memiliki los sejumlah 2.700. Sebanyak 648 los tidak berpenghuni alias kosong. Sedangkan untuk kios ada 55 yang kosong.

Salah seorang pedagang di sana, Supriyati, 43, berkeluh kesah harus bagaimana lagi agar bisa mencukupi kebutuhan dapur dan menyekolahkan anak. Belum lagi jika undangan hajatan dari kerabat maupun kolega di pasar menumpuk. “Dapat paling Rp 25 ribu – Rp 40 ribu sehari. Belum buat biaya harian. Contoh parkir, jajan atau makan dan kebutuhan lain. Tidak bisa dibayangkan kalau musim hajatan,” ungkapnya, kemarin (28/1).

Bagi Supriyati atau Upi, di Pasar Tumenggungan melewati hari berjualan penuh pengharapan. Setiap orang yang melintas di depan los sudah dianggap bak seorang raja. Satu per satu dagangan ditawarkan. Namun, lebih banyak yang menggelengkan kepala tanda kurang berminat. “Sehari paling laku satu dua, itu cuma buat belanja. Kalau tidak punya langganan sulit banget,” tuturnya.

Selama berjualan bertahun-tahun, Upi kenyang merasakan pahit getirnya berjualan. Tabiat berbagai macam calon pembeli sudah ditemui. Mulai calon pembeli hanya sekedar menawar sampai barang dagangan diejek. “Kemarin mau tutup baru ada yang datang beli. Kadang juga tidak sama sekali,” lanjutnya.

Dia menampik, ramainya pasar hanya musiman saja. Sebab, hari besar seperti lebaran atau tahun baru juga sudah tidak bisa lagi diharapkan. Kini, dia menyiasati pembeli yang tidak menentu dengan mulai merambah jualan online. “Mungkin banyak yang ke swalayan atau ke online. Sekarang saya sedikit harus beradaptasi upload di media sosial. Tidak ada yang melirik jualan lapak ya syukur bisa dilirik di dunia maya,” sambungnya.

Pedagang lain, Murtinah, 50, sangat merindukan masa kejayaan berjualan. Dimana pasar ramai riuh menandakan sebagai tempat perputaran ekonomi masyarakat. Kini omset mereka terus merosot. Kondisi ini terhitung pasca wajah pasar di jantung kota Kebumen tersebut resmi dirubah. Parahnya lagi masih diterpa pandemi Covid-19 yang belum pasti kapan pungkasan. “Kami ingin normal kembali seperti semula. Pemerintah bisa memikirkan pasar supaya bangkit lagi,” terangnya.

Beruntungnya, wanita paruh baya ini mengungkapkan sudah tidak lagi memiliki tanggungan anak sekolah. Sehingga sedikit mengurangi beban pengeluaran. “Anak-anak sudah tamat semua. Paling yang punya anak kecil itu yang repot,” jelasnya. (cr2/pra/er)

Lainnya