Purworejo Jadi Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi

Purworejo Jadi Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi
JARING ASPIRASI: Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah Abdul Kholik saat bersilaturahmi dengan para ulama, tokoh agama serta tokoh pemuda di Kabupaten Purworejo untuk mengembangkan JASELA. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah Abdul Kholik mengunjungi Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo. Minggu (30/1). Kunjungan kali kedua di Kabupaten Purworejo ini menjadi pertanda, bahwa DPD RI cukup serius memperhatikan Kabupaten Purworejo yang dinilai menjadi salah satu titik ungkit pengembangan Jawa Tengah Selatan (JASELA). Menurut Abdul Kholik, konsep yang paling tepat untuk JASELA yakni pengembangan ekonomi berbasis kawasan. “Boleh dikatakan ini urgensi pendekatan baru dalam menyeimbangkan pembangunan daerah, khususnya sektor ekonomi,” ucap Abdul Kholik.

Dijelaskan, berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah per September 2021, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah terdapat 3,93 juta jiwa atau 11.25 persen dari total penduduk. Angka ini turun sebesar 0,54 persen dibandingkan kuartal yang sama di September 2020 dengan angka sebesar 11,84 persen. Kendati demikian, masih perlu inovasi dan terobosan yang nyata untuk menekan angka kemiskinan di Jateng. Gagasan ekonomi berbasis kawasan salah satunya.

Menurutnya, JASELA Tetap butuh poros ekonomi tambahan untuk mengimbangi Jateng Utara. Dalam pembangunannya, faktor ekologi juga tidak boleh dilepas, selatan harus bisa berkaca dengan fenomena yang terjadi di utara untuk ekologinya (banjir rob, penurunan tanah, dan sebagainya, Red). JASELA butuh poros ekonomi tambahan sebagai pusat pertumbuhan. Sistem ekonomi berbasis kawasan menjadi jawabannya. “Jejak zaman juga menunjukkan bahwa Jawa Selatan merupakan kawasan agropolitan,” jelasnya.

Agropolitan JASELA bisa dilihat dari jalur-jalur muara sungai yang dulu pernah menjadi nadi angkutan komoditas pertanian di zaman penjajahan Belanda. Banyak kota pertanian yang tumbuh dan berkembang. Jawa selatan merupakan wilayah berpenduduk agraris, tempat tumbuh usaha agribisnis. Mampu melayani, mendorong, menarik dan menghela kegiatan pembangunan pertanian di wilayah-wilayah sekitarnya.Akses dan poros nasional kini bahkan sudah dibangun di kawasan Jateng Selatan. Jalan tol juga akan dibangun, menyusul jalur kereta, bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Bendungan tertinggi di Indonesia juga tengah dibangun di Purworejo. “Borobudur juga menjadi magnet istimewa bagi para wisatawan domestik dan mancanegara,” jelasnya.

Menurutnya, gerbong perekonomian akan melesat dengan dukungan semua elemen masyarakat dan stakeholder yang ada di JASELA. Khususnya di Kabupaten Purworejo. Kawasan JASELA akan semakin eksis jika sudah menemukan kemandiriannya, mampu mencukupi kebutuhan masyarakatnya. “Ada dua aresidenan yaitu Karesidenan Kedu dan Karesidenan Banyumas,” ujarnya.

Ditambahkan, pengembangan kawasan selatan ini bukan main-main, kurang lebih dua tahun ia sudah mulai mengamati Jateng Selatan. Baik melalui observasi, kunjungan kerja dan rapat dengan berbagai mitra berikut simulasi data. Terlebih, konsep ekonomi berbasis kawasan sejalan dengan DPD RI yang memiliki tupoksi pengawasan dan pertimbangan anggaran dalam bidang otonomi daerah, hubungan pusat dengan daerah dan pengelolaan sumber daya. “Kami tidak hanya menyeerap aspirasi, tetapi juga tukar pandangan dengan para ulama dan kiai-kiai serta para profesional untuk gagasan ini,” katanya. (tom/din)

Lainnya