SMP Negeri 2 Kebumen Pertahankan Dolanan Bocah

SMP Negeri 2 Kebumen Pertahankan Dolanan Bocah
PERMAINAN TRADISIONAL : Siswa SMP Negeri 2 Kebumen mencoba permainan tradisional yang kini nyaris punah tergerus era teknologi.

KEBUMEN, Radar Kebumen – Di era modern permainan tradisional jarang dilirik lagi oleh generasi muda. Pesatnya arus teknologi sudah menggeser eksistensi permainan tradisional yang dianggap sebagai irisan metode pembentukan karakter.

Atas kondisi itu, SMP Negeri 2 Kebumen memutuskan untuk menyisipkan permainan tradisional di dunia pendidikan formal. Tujuannya tidak lain membumikan kembali kekayaan tradisi yang nyaris hilang ditelan zaman. Berangkat dari lingkungan sekolah inilah diharapkan permainan yang diadopsi dari kondisi lingkungan sosial dulu kembali dikenal. “Bisa dikatakan hampir punah. Perlu adanya revitalisasi agar dolanan bocah tetap lestari,” kata Kepala SMP N 2 Kebumen Tjandra Agustina Dewanti, kemarin (3/1).

Sekolahnya, kata Agustin, telah mensosialisasikan pengetahuan permainan tradisional baik ke siswa maupun tenaga pendidik melalui pendidikan muatan lokal berbasis daerah. “Kami lakukan berkala setiap semester ada. Jadwalnya disesuaikan dan cari momentum yang pas. Sebenarnya sudah mulai dari 2019 seiring pencanangan konsep sekolah ramah anak,” tuturnya.

Menurutnya, permainan tradisional tidak hanya bersifat edukatif. Tapi juga banyak memberikan pembelajaran karakter. Seperti kekompakan, kejujuran, ketelitian, keterampilan serta kecakapan yang nantinya para siswa butuhkan dalam kehidupan. Lebih dari itu, permainan tradisional dinilai merupakan alat atau media bagi siswa sebagai modal mereka bisa menyesuaikan diri sebagai anggota kelompok sosialnya. “Wahana dolanan bocah sesuai filosofi dan tujuan pendidikan yakni membentuk generasi yang berkarakter. Meski terlihat sepele tapi itu yang terus kami upayakan,” jelasnya.

Dia menyebutkan, jenis permainan tradisional yang dikenalkan ke siswa antara lain lari balok, patok lele, boi, lompat yeye, kelereng, ular tangga, monopoli, umbul, brek atau sunda manda, bekelan, dakon serta umbul. “Jadi anak kelas ini ada yang ikut patok lele. Setelah satu sesi selesai muter ganti permainan lain. Biar anak-anak dan guru fresh juga menikmati,” terangnya.

Lebih lanjut, pengenalan permainan tradisional dikemas dalam kegiatan belajar mengajar satu hari di luar kelas. Para siswa dari kelas VII hingga IX secara bergantian diajak memahami dan mengikuti permainan tradisional. “Ternyata kebanyakan belum tahu. Kami guru mengajari sungguh-sungguh bagaimana cara dan aturan main. Kemarin saya langsung mencontohi main yeye seperti apa,” ungkapnya. (fid/pra/er)

Lainnya