Ratusan Aparat Kawal Pengukuran Wadas  

Ratusan Aparat Kawal Pengukuran Wadas  
MENCEKAM: Ratusan aparat gabungan saat diterjunkan di desa Wadas tepatnya di Kompleks Masjid Nurul Huda yang menjadi tempat berkumpulnya warga penolak penambangan Quarry kemarin. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Proses pengukuran lahan tambang quarry bahan baku penyusun untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener di Desa Wadas, Kecamatan Bener berlangsung dramatis, kemarin (8/1). Ratusan aparat diterjunkan untuk mengamankan tim pengadaan tanah dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) melakukan pengukuran lahan warga yang sudah diizinkan. Puluhan warga penolak penambangan di Desa Wadas pun diamankan pihak kepolisian.

Pantauan Radar Purworejo di lapangan, ratusan aparat gabungan TNI/Polri dan Satpol PP sudah bersiap sejak pagi hari. Tidak hanya dari Polres Purworejo, nampak juga sejumlah anggota dari Polda Jateng, Polres Wonosobo, dan Magelang. Sebelum menuju lokasi pengukuran di Desa Wadas, mereka sempat briefing terlebih dahulu di lapangan yang berada tepat di belakang Mapolsek Bener.

Petugas BPN dikawal aparat kemudian menuju ke lokasi pengukuran. Ketegangan terjadi di Masjid Nurul Huda yang menjadi tempat berkumpulnya warga penolak penambangan quarry. Sedikitnya ada 23 orang yang diduga membawa senjata tajam diamankan kepolisian dan dibawa ke Polsek Bener.

Wakapolda Jawa Tengah, Brigjen Pol Abioso Seno Aji mengatakan, sesuai dengan tugas dan fungsi Polri, aparat didatangkan ke Wadas untuk memberikan pendampingan. Pada prinsipnya karena ini PSN maka sudah menjadi tugas kepolisian untuk menyukseskannya. “Sejak tadi pagi semua berjalan lancar, jika ada warga yang kami amankan itu untuk dimintai keterangannya, kenapa mereka datang ke lokasi membawa senjata tajam. Kami amankan 20 orang dan masih kami dalami,” ucapnya.

Ditegaskan, pemerintah tidak akan melakukan rangkaian kegiatan yang bertujuan menyengsarakan rakyatnya. Sebagian warga di Wadas juga mendukung, maka diharapkan warga yang masih keukeuh menolak  segera bisa terbuka pikirannya. “Jika bendungan terwujud juga akan memberikan kemanfaatan bagi warga disini, harus dipikirkan semua, sekali lagi pemerintah tidak akan menyengsarakan rakyatnya,” tegasnya.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) BPN Provinsi Jawa Tengah Dwi Purnama menyatakan, BPN melakukan inventarisasi dan identifikasi terkait luas bidang tanah dan tanam tumbuh, proses tersebut melibatkan dari ATR BPN dan Dinas Pertanian. “Target keseluruhan kurang lebih 400 bidang lahan, hari ini target 150 bidang, mudah-mudah tercapai, karena ternyata medannya naik turun dan tanamannya cukup rapat,” katanya.

Ditambahkan, setelah proses ini selesai, sistem pembayaran akan dilakukan, data akan diserahkan ke pihak appraisal independen kemudian dimusyawarahkan. Proses pembayaran melalui rekening bank masing-masing warga. Sistem konsinyasi itu bagi warga yang tidak sepakat, aturan hukumnya seperti itu. Harapannya tidak ada konsinyasi karena yang menilai benar-benar tim appraisal independen dengan harga standar.”Kami mengucapkan terimakasih kepada Tim Polda Jateng dan Kodam V Diponegoro yang turun langsung membantu mendampingi kami. Alhamdulilah pengaman baik sekali. Target kami tiga  hari selesai. Petugas BPN jika perlu menginap di lokasi, ini PSN harus dikawal bersama,” ucapnya.

Sementara itu, akun Instagram warga penolak quarry Desa Wadas @wadas_melawan beberapa kali mengunggah beberapa postingan terkait kegiatan pengukuran tanah. Mereka menulis jika polisi ada di Desa Wadas dan menangkap sejumlah warga yang akan menunaikan Salat Dzuhur. Polisi juga menurunkan spanduk yang dipasang warga dan mengambil alat-alat tajam yang biasa dibawa petani ke ladang.

Dalam unggahan lain, akun tersebut juga menuliskan adanya sekitar 40 warga yang dibawa ke Polsek Bener. Sebanyak 20 warga telah teridentifikasi namanya. Sedangkan lainnya masih terus didata. (tom/din)

Lainnya