Balai Konservasi Borobudur Abadikan Pelaku Pemugaran Candi Borobudur

Balai Konservasi Borobudur Abadikan Pelaku Pemugaran Candi Borobudur
APRESIASI: Prasasti yang bertuliskan 600 pelaku pemugaran Candi Borobudur selama 10 tahun tinggal menunggu peresmian oleh Dirjen Kebudayaan.

 MAGELANG, Radar Kebumen – Candi Borobudur menjadi warisan dunia yang terletak di Magelang. Keberadaannya tentu berasal dari para pemugar yang menangani Candi Borobudur. Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan mereka, pemerintah membuat prasasti khusus berlokasi di Kompleks Kenari Candi Borobudur.

Sebuah bangunan besar ditutupi dengan terpal biru berada di kompleks Candi Borobudur. Bukan penemuan batuan candi baru. Tapi merupakan bangunan baru yang didedikasikan bagi para pemugar Candi Borobudur. Karena jasa mereka,kini Candi Borobudur termasyhur hingga mancanegera.

Setidaknya, ada sekitar 600 orang yang terlibat dalam pemugaran Candi Borobudur selama 10 tahun. Candi Borobudur sendiri telah dilakukan pemugaran sebanyak dua kali. Pertama pada 1907-1911 yang dilakukan Theodoor Van Erp. Kemudian, pemugaran kedua dilakukan pada 1973-1983 oleh pemerintah Indonesia dan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Karenanya, Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Wiwit Kasiyati menuturkan, 600 nama tersebut diabadikan dalam sebuah prasasti, termasuk orang dari UNESCO. Pembuatan prasasti tersebut merupakan gagasan dari Dirjen Kebudayaan Hilmar Faris pada Oktober 2021 lalu untuk memberikan penghargaan kepada para pelaku pemugaran yang kedua.

Enam ratus nama pelaku pemugaran tersebut terpilih karena telah berjasa sehingga Candi Borobudur dapat berdiri megah. Baik dari pelaksana, pemikir, maupun tenaga administrasinya. Sehingga namanya layak untuk dikenang dan diabadikan. “Yang dulunya Candi Borobudur seperti itu kondisinya bisa berdiri megah seperti ini,” tuturnya di Kompleks Candi Borobudur, Rabu (9/2).

Dia menyebutkan, prasasti tersebut terbuat dari batu buatan atau artifisial. Pasalnya, jika menggunakan batu asli akan membutuhkan waktu lama. Terutama mencari dan mobilitasnya ke Candi Borobudur.

Selain itu, ada beberapa hal yang dipertimbangkan. Satu diantaranya untuk mencegah adanya kerusakan saat di jalan. “Soalnya ada tekanan yang besar ketika menggunakan batu asli. Harganya pun relatif mahal,” paparnya.

Prasasti tersebut sudah jadi pada Desember 2021. Tinggi prasasti tersebut ditaksir sekitar tiga hingga empat meter. Sebelum menulis 600 pelaku pemugaran, pihak BKB mengundang semua pemugar yang masih hidup.

Wiwit menyebut, mereka telah dipertemukan sebanyak tiga kali. Menurutnya, mereka merupakan orang yang luar biasa lantaran masih mengingat betul siapa saja yang terlibat dalam pemugaran. “Mereka saling gethok tular. ‘Ayo, di sektor kamu siapa saja’ gitu. Jadi, tiga hari sudah dapat 600 nama itu,” ujarnya.

Mereka pun saling menyampaikan gagasan yang kemudian akan ditindaklanjuti oleh pihak BKB. Termasuk agar mereka diundang dalam acara peresmian prasasti tersebut.

Wiwit menyebutkan, untuk bagian yang akan ditandatangani, belum dicantumkan namanya. Masih kosong. Prasasti tersebut juga masih ditutup dengan terpal. Yang akan meresmikan pun belum diketahui pastinya. Untuk itu, pihak BKB memohon kepada Dirjen Kebudayaan untuk menentukan peresmiannya. “Rencana peresmian belum tahu persisnya kapan. Tapi, sudah jadi,” ujarnya.

Namun, ketika melihat prasasti yang sebelumnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada Februari 1983, Wiwit mengatakan, untuk pemugaran kedua ini akan lebih baik jika diresmikan oleh presiden juga. “Kalau selama pemugaran, diresmikan oleh Pak Pesiden lagi itu bagus, tapi kami juga belum tahu,” katanya. (pra/er)

Lainnya