Didatangi Pejabat, Mulai Menganyam Besek Lagi

Didatangi Pejabat, Mulai Menganyam Besek Lagi
SUASANA: Sejumlah warga desa Wadas di Kompleks Masjid Nurul Huda Desa Wadas saat didatangi Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Informasi dan Komunikasi Politik, Joanes Joko.

PURWOREJO, Radar Purworejo – Pasca-gegeran saat pengukuran lahan, Selasa lalu (8/2) Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo mendadak ramai dikunjungi pejabat penting pusat. Meskipun begitu warga di sana kini sudah berangsur kembali beraktivitas secara normal. Termasuk membuat anyaman besek.

Pantauan Radar Purworejo Sabtu (12/2), suasana desa Wadas sudah relatif kondusif, jalan-jalan desa tidak se-lengang sebelumnya, terlihat anak-anak pulang sekolah, dan ibu-ibu terlihat tekun menganyam besek bambu di teras rumah. Beberapa pos yang sengaja dibuat warga penolak quarry di sejumlah titik ruas jalan dan persimpangan juga mulai ada penghuninya. Mayoritas adalah anak-anak muda. Kendati hanya sebatas duduk-duduk.

Salah satu warga penolak quarry, Hamidah mengungkapkan, ia tidak rela jika tanahnya diambil untuk tambang, sebab sebagai petani lahan tersebut merupakan nadi kehidupan keluarga. Ia mengaku tidak berharap mendapatkan uang ganti rugi pembebasan lahan. “Bagaimana nanti anak cucu kami kalau lahan itu dilepas. Kalau masih berwujud tanah masih bisa dimanfaatkan, tetapi kalau diganti uang nanti cepat habis,” ungkap Hamidah yang mengaku suami, adik, dan anaknya juga ikut diamankan petugas pada Selasa lalu (8/2), meski sekarang sudah dilepas.

Warga lain, Aisah, menyatakan hal senada, selama ini ia mencari nafkah hidup sebagai petani, waktu senggang digunakan untuk membuat kerajinan besek. Bahan baku besek yakni iratan bambu, pohon bambu didapat dari hutan-hutan di sekitar rumahnya. “Sehari bisa 10 tangkep (satu set,red), satu tangkep besek  saya jual di warung depan (pengepul,red) Rp 2.000 per besek, saya sudah 30 tahun membuat besek, ya ini pekerjaan ibu-ibu disini, biasanya berkumpul bersama sambil membuat besek,” ucapnya

Empat hari setelah gegeran, makin banyak tokoh dan pejabat yang datang. Rerata beralasan mencari tahu polemik pembebasan tanah Desa Wadas untuk quarry Pembangunan Bendungan Bener. Di antaranya disorot langsung Presiden Jokowi Widodo. Melalui Kantor Staf Kepresidenan (KSP) pun turun ke Desa Wadas, Jumat (11/2) sore.

Rombongan Staf KSP ke Desa Wadas dipimpin langsung Tenaga Ahli Utama Kedeputian Bidang Informasi dan Komunikasi Politik, Joanes Joko. Mereka bertemu ratusan warga penolak rencana quarry di Desa Wadas serta sejumlah aktivis dan pendamping hukum lainnya di Masjid Nurul Huda.

Joanes Joko mengatakan, kedatangannya ke Wadas untuk mendengar langsung apa yang sebenarnya terjadi di Desa Wadas Selasa lalu.   Menurutnya, informasi  tersebut akan disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo. Presiden Jokowi dan KSP ingin tahu apa yang sebenarnya melatarbelakangi penolakan warga. Sebab, Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener sudah berjalan dan tidak ada persoalan di lokasi tapak bendung, genangan, dan sabuk hijaunya. “Kami lihat di media sosial kok begitu ramainya, maka kami datang untuk kumpulkan fakta,” ujarnya.

Dijelaskan, data yang diperoleh dilapangan nantinya akan dibuat menjadi laporan yang komprehensif untuk disampaikan kepada Kepala KSP Moeldoko. Laporan ke Presiden Jokowi oleh Kepala KSP Moeldoko. “Kita bisa melihat bagaimana gaya Pak Jokowi menyelesaikan persoalan, dialog terus-menerus, jika ada yang tidak setuju didiskusikan kendalanya, adakah penyimpangan, mana yang harus dibersihkan, sehingga persoalan terurai,” jelasnya. (tom/pra/er)

Lainnya