Meningkatkan Literasi dengan Sentuhan Masa Lampau

Meningkatkan Literasi dengan Sentuhan Masa Lampau
KREATIF: Suyitman, guru MTs Negeri 1 Kebumen yang produktif menghasilkan buku cerita bergambar.

KEBUMEN, Radar Kebumen – Di era serba digital ini, pelajaran dengan buku masih diminati. Di antaranya melalui buku cerita bergambar. Tak banyak yang masih berminat membuatnya. Tapi guru MTs Negeri 1 Kebumen konsisten memproduksinya. Penghargaan dari berbagai kalangan pun diterimanya.

Anak-anak berikut para orang tua kini cukup dimudahkan dengan membanjirnya sumber media belajar. Belum lagi, sentuhan era teknologi sedikit menggeser pola lama melalui metode cerita bergambar.

Namun, di balik semua itu masih ada sosok yang begitu istiqomah mempertahankan metode terbilang jadul. Adalah Suyitman, guru MTs Negeri 1 Kebumen. Ia terbilang produktif menghasilkan buku cerita bergambar. Saking aktifnya di kepenulisan dunia anak. Tak jarang buah karyanya dilirik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Untuk meningkatkan budaya literasi, mau membaca dan memahami itu perlu sentuhan atau cara khusus. Salah satunya dikemas dengan baik,” kata Suyitman, Senin (14/2).

Suyitman mengaku, buku cerita bergambar memang tidak menarik seperti dulu. Kondisi ini sebelum tergerus arus teknologi, dimana anak kini sudah disodorkan banyak pilihan bahan belajar. Khususnya bahan belajar yang kini sudah sangat mudah diakses melalui berbagai platform media. “Saya kepingin saja hal yang berbau tradisi atau masa lampau itu dikemas dengan baik, sehingga anak-anak tertarik. Minimal ada ruang agar anak itu muncul rasa ingin tahu,” sambungnya.

Sejak 2017, Suyitman berhasil menelurkan sederet karya untuk media belajar anak. Seperti buku bergambar berjudul Minuman Nusantara (2017), Terjebak di Negeri Jajan (2018), Tantangan Buku Kuno (2019), Puteri Resik (2019) serta Monster Kasur (2019). “Pada 2017 saya dapat penghargaan sebagai penulis buku sayembara penulisan bahan bacaan literasi. Dulu dari kementerian temanya gerakan literasi nasional,” ucapnya.

Tidak berhenti pada titik itu, 2018 Suyitman juga mendapatkan penghargaan serupa dari Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan menyodorkan judul ‘Terjebak di Negeri Jajan’. “Semua berangkat dari buku dunia anak. Bersyukur bisa mewarnai kegiatan dan memperoleh predikat itu,” terangnya.

Terakhir, sosok guru yang getol dengan kepenulisan ini tahun lalu juga mampu menorehkan prestasi tingkat nasional. Yakni membawa pulang juara 1 pada event lomba menulis artikel tentang pendidikan keluarga yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Intinya fokus dan terus belajar. Genre atau kemampuan pada minat tertentu harus terus diasah, itu kuncinya,” paparnya. (pra/er)

Lainnya