Gelar Merti Dusun, Buat Ratusan Tenong dan Panjang Ilang 

Gelar Merti Dusun, Buat Ratusan Tenong dan Panjang Ilang 
BERSYUKUR: Warga dari empat pedukuhan di Desa Semagung, Kecamatan Bagelen, Purworejo saat menata tenong Panjang Ilang menuju balai desa. Mereka menggelar selamatan desa sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO  – Daun muda pohon kelapa itu namanya janur. Warnanya kuning seragam. Semacam simbol kemakmuran dan niat warga yang teranyam sama. Warga Desa Semagung,  Bagelen, menyebutnya panjang ilang. Sebuah tempat mengemas tenong berisi nasi, sayur, lauk dan buah walimahan. Warga berkumpul melakukan selamatan desa atau merti desa, sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Mahas Esa.

Pohon Kelapa di tepian sungai berarus deras dekat balai Desa Semagung itu tumbuh sempurna. Daunnya merunduk menghadap ke utara, meranah pergerakan manusia yang ditemukan semangat ingin bersyukur. Seperti semut serdadu terhadang tetes embun laiknya bola kaca surga yang turun pagi hari .

Pohon kelapa yang tumbuh besar dan kokoh itu tetap menjadi saksi. Mungkin sejak ia masih cikal (kecil) ketika kupu-kupu sering hinggap di pucuknya. Dia dibiarkan tumbuh dan janur pun berubah warna menjadi hijau muda, hijau tua, hingga coklat blarak pemantik api tungku-tungku dapur yang dingin. Sedingin ritual yang hampir dua tahun mati dicengkeram pandemi Covid-19.

Seperti kuda liar, dengan otot yang kokoh akibat kegemarannya berlari. Semangat warga Semagung juga memiliki kesamaan. Mereka bukan lagi gemar mengantarkan kebaikan ke sana dan ke mari. Di punggungnya penuh cinta, bukan lagi pelana yang disandangkan penuh paksa.

Jangan tanya, kadang mereka adalah alam. Sebuah habitat kehidupan yang indah penuh kebebasan. Hari ini ke hutan, esok lusa ke lembah, menjumpai kleresede, daun mahoni muda, sedikit ilalang untuk pakan ternak. Juga buah-buahan, seperti durian, kelapa, nangka dan hasil bumi lainnya yang tumbuh sendiri, besar sendiri dan berbuah sendiri tak ada bingung mencukupi kebutuhan warga sehari-hari.

Varian baru Covid-19  seolah tatas, habis di hadapan Selamatan Desa (Merti Desa) penuh doa di jalan-jalan menuju balai desa Semagung, yang penuh tenong Minggu (13/2). Ya, ratusan tenong berisi nasi, sayur, lauk dan buah dikemas menarik di dalam panjang ilang. Terbalut niat putih warga yang pandai berterima kasih kepada Sang Pencipta. Kendati tampak kontras dengan langit hitam sosial distancing, masker yang membuat warga sedikit kesulitan siapa nama.

Yang jelas, riuh sekali ruang suara di tapal batas bukit menoreh sisi barat itu sore itu. Selamatan desa yang sekian lama mandek, kembali bergema dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Mereka menyebut, warga butuh keselamatan jagad cilik dan jagad gedhe dalam meniti perjalanan hidup.

Seksi acara Prabandoko menjelaskan, selamatan Desa Semagung diadakan dua tahun sekali. Harinya jatuh pada bulan Rajab. Seluruh warga memohon keselamatan. Tahun 2022, selamatan Desa Semagung sengaja digelar pada hari pinilih, yakni Radite Kasih (Minggu Kliwon) tanggal 12 Rajab 1443 H atau 13 Februari 2022 M. Bertepatan dengan Wuku Bala, Mangsa Kawolu, Tahun Alip, Windu Sancaya. “Artinya, jagad cilik adalah jagad diri manusia sekeluarga dan jagad gedhe adalah seluruh alam Semagung seisinya,” jelasnya fasih.

Menurutnya, merti desa itu ditandai dengan pembuatan dua macam ubo rampe sesaji, yakni setiap kepala keluarga membuat walimah berwujud tenong dan panjang ilang berisi nasi, sayur, lauk dan buah. Sementara perangkat diwajibkan membuat walimah yang lebih lengkap, berikut ingkung, jenang abang putih, jenang baro baro, golong gilig, jajan pasar, tumpeng jagat papat, dan lainnya. “Sesuai kesepakatan setiap RT memukul kentongan sebagai tanda warga sudah waktunya membawa sesaji Tenong ke Balai Desa. Panitia Rajaban mengatur uborampe sesaji selamatan desa yang dibuat kepala desa dan perangkat desa dalam gelaran karpet di dalam balai desa,” ujarnya.

Kades Semagung Sunarno menambahkan, ada sekitar 160 tenong dan panjang ilang yang dibawa warga dari perwakilan 4 pedukuhan yang ada. Tenong dan panjang ilang itu dikumpulkan dan ditata di tempat yang telah disiapkan panitia. Begitu sesepuh dan tamu undangan duduk, termasuk rombongan dalang dan nayaga siap, sejarah babad alas Desa Semagung dikisahkan.

Ajaran leluhur yang termuat dalam bahasa simbol yang ada pada salah satu uborampe  sesaji (tenong, panjang ilang, tumpeng jagat papat dan lain lain) dikupas tuntas dan dikunci dengan pembacaan doa dan diamini bersama. Sementara itu di luar balai desa, pada lokasi yang telah ditetapkan, tenong yang berasal dari 4 Dusun dikumpulkan, kemudian saling ditukar, sebagian makanan dalam panjang ilang diambil untuk dahar (makan) bagi wiyaga dan panitia dan pamong serta sesepuh desa berikut para pedagang yang berjualan di sekitar balai desa. “Berkah-berkah,” ucap salah satu perangkat yang tekun membagikan makanan yang diambil dari tenong panjang ilang kepada semua yang datang ke kompleks balai Desa Semagung.

Ringgit purwa (wayang kulit) dengan lakon Merkukuan (Sri Mulih) oleh dalang Ki Sarjono dari Desa Bagelen pada siang hari dimainkan. Surup cahaya pergantian malam, karawitan berhenti, pagelaran wayang kulit dilanjutkan malam, dengan lakon Semar Mbangun Kahyangan oleh Ki Gunawan dari Desa Keduren. “Semua tradisi ini adalah warisan leluhur, sara bersyukur kami atas kenikmatan, kesehatan, rejeki, ketentraman dan kesejahteraan sekaligus media untuk memupuk gotong royong Semagung yang kuat, maju dan kompak,” kata Sunarno. (tom/din)

Lainnya