Mendengarkan Sindiran Halus Komunitas Jogokali Nusantara

Mendengarkan Sindiran Halus Komunitas Jogokali Nusantara
JOGOKALI: Aksi tebar benih ikan dan penanaman pohon di bantaran sungai Bogowonto desa Kedungsari, Purworejo dimotori oleh Komunitas Jogokali Nusantara, Sabtu (19/2). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Air Sungai Bogowonto berwarna coklat susu. Tidak banjir. Tetapi debitnya lumayan tinggi. Salah satu penyebabnya yakni pendangkalan. Air di atas teras Bendungan Boro melebar membuat air meluber. Kondisi ini mengundang keprihatinan Komunitas Joggokali Nusantara.

Sepuluh Ribu Benih ikan nilem dan nila itu seakan bersorak girang. Mereka dilepas dari kantong-kantong plastik beroksigen,. Melawan arus. Mereka berbaris rapi di tepian. Tidak lama kemudian hilang ke tengah. Seperti direnggut sungai yang keruh tanah.

Beberapa bulan terakhir banjir dari hilir terjadi. Ironisnya banjir juga membawa tanah pemicu sedimentasi, membuat sungai-sungai tempat ikan besar dan beranak pinak berubah dangkal. Kedung-kedung hilang.

Aksi tebar benih dan penanaman pohon itu sekilas lebih bernada sindiran halus. Mereka-mereka yang masih tidak sadar pentingnya alam dan lingkungan hidup. Kendati begitu, populasi ikan di sungai memang menipis, tidak seperti dulu.

Bukit-bukit gundul, dijarah tangan-tangan manusia yang tak pernah kenyang, lapar dan tidak anak cucu. Mereka salah satu penyebab sungai-sungai menjadi dangkal, penuh lumpur dan sedimentasi.

Belum lagi hama lainnya, masih sering ditemui warga yang abai mengambil ikan dengan cara disetrum. Tidak hanya membuat ikan kejang dan tewas. Mereka yang berhasil hidup dan betina, dipastikan telurnya gagal menetas, ikan kehilangan generasi, menipis dan langka.

Maka aksi tebar benih ini dipilihkan ikan lokal, nilem pemakan lumut. Nila yang rakus dan cepat berkembang biak sengaja dipilih dan digadang bisa cepat gede. Ketika mereka dijaga alam, bisa berubah berdaging tebal, kaya kandungan omega 3, sedikit lemak jenuhnya. Bagus buat manula dan balita.

Program Gemar Makan Ikan (Gemarikan) yang dulu digemborkan Menteri Susi Pudjiastuti tidak hanya budidaya di kolam. Menjaga tangkapan laut, memelihara kelestarian ikan lokal di sungai itu menjadi harapan anak dan cucu kelak.

Populasi ikan-ikan di sungai juga semacam sandi atau penanda, seberapa tinggi kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Pencemaran bungkus sampo, deterjen dan kantong plastik terjadi parah.

Koordinator aksi tebar benih dan penanaman pohon Muh Edi Suryanto yang juga dikenal Kyai Merah mengatakan, komunitas Jogokali Nusantara sudah genap berjalan tujuh tahun. Mereka rutin melakukan menanam pohon dan menebar benih ikan di bantaran sungai.

Kali ini, Jogokali Nusantara mendapat dukungan penuh dari komunitas lainnya. Ada IOF, Santri Gayeng, dan beberapa komunitas lainnya ikut menanam 1.000 pohon dan menebar 10 ribu benih ikan di atas Bendungan Boro Desa Kedungsari, Kecamatan Purworejo.

“Manusia adalah bagian dari lingkungan hidup, pohon harus terus ditanam untuk mengikat tanah dan menyimpan air. Udara menjadi segar dan sehat, tidak kesulitan air saat kemarau. Mudah mudahan apa yang dilaksanakan hari ini dicatat Allah sebagai amal ibadah,” ucap Kyai Merah yang juga sering disapa Kang Mamat, usai tebar benih ikan Sabtu (19/2).

Ditambahkan, aksi kali ini boleh diartikan sebagai sindiran halus bagi mereka yang tidak peka dengan lingkungan. “Sebetulnya kegiatan hari ini akan dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) di sela kunjungannya ke Kabupaten Purworejo. Diwakili Santri Gayeng yang tadi dilantik,” ucap motivator Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) Purworejo ini.

Komandan Kodim 0708 Purworejo Letkol Inf Lukman Hakim menambahkan, bhakti alam bhakti tirta dengan cara menanam pohon dan menebar benih ikan merupakan kegiatan yang harus digalakkan terus. Satu tujuannya yakni terwujudnya keseimbangan alam. “Saya yakin dengan begini semua akan menjadi pribadi yang bijak bersahabat dengan alam, mengambil ikan cukup dengan mancing. Jangan nyetrum atau obat,” tegasnya.

Menurutnya, sebagai manusia jangan bosan untuk berbuat yang baik dan bermanfaat untuk lingkungan. “Semua manusia itu sebetulnya adalah abdi alam, kita harus melayani alam dengan bijaksana. Mari sama-sama gairahkan kegiatan serupa, ini juga bentuk perlawanan secara halus untuk mereka yang merusak lingkungan,” ujarnya

Ki Lurah Offroad M Hardjanto mengungkapkan, membersamai langkah Kyai Merah, Dandim 0708, Komunitas Mancing Mania Purworejo, Santri Gayeng dan  Komunitas Sepeda Tua adalah sebuah kebanggaan. Menurutnya, menjelaskan itu lebih mudah dengan contoh, inilah salah satu cara melestarikan alam. “Ya seperti ini, bencana alam dimana-mana, siapa lagi yang akan peduli dan kapan lagi, jangan abai dengan lingkungan, janganlah merusak lingkungan, ekosistem harus dijaga untuk masa depan,” ungkapnya.(din)

Lainnya