Ajak Generasi Milenial Susuri Jejak Sejarah Tanah Leluhur

Ajak Generasi Milenial Susuri Jejak Sejarah Tanah Leluhur
KENALILAH : Peserta Purworejo Walking Tour saat berhenti di titik 0 kilometer Purworejo (kanan). Peserta melihat kemegahan bangunan SMAN 7 Purworejo yang masih berdiri kokoh sejak  1915. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Apa pentingnya generasi muda dikenalkan wisata sejarah. Apa pula tujuan ikut Purworejo Walking Tour dan  menyecap pagelaran pertama tahun keempat Gendhing Setu Legi. Sadarkah mereka HUT  ke-191 Kabupaten Purworejo segera datang?

Generasi Milenial, khususnya mereka yang sudah lama merantau, kadang harus ditanya, apa alasannya mereka melipat kerinduan terhadap kampung halaman. Sesekali mungkin perlu, menjajal atau meniti sejarah tentang tanah asal.

Jadikan Kabupaten Purworejo laiknya kereta. Biarkan generasi muda ini berdiri di bordes paling belakang. Biarkan mereka rasakan angin yang menyentuh. Jangan biarkan mereka hanya membayangkan Jack Dawson memeluk Rose di ujung depan Kapal Titanic. Menghabiskan waktu hanya untuk cinta-cintaan.

Fokuskan pandangan mereka lurus ke depan. Ke arah yang berlawanan, kapalmu (Kabupaten Purworejo, Red) sudah jalan sejauh ini. Tanah kelahiran yang kau tumpangi. Coba picingkan retina matamu. Tangkaplah berlajur-lajur rel yang seperti tergesa-gesa ditinggal kereta.

Ya. Inilah tanah kelahiran kalian! Tidak usah pusing memikirkan apakah betul kereta yang sedang bergerak menjauh. Atau jangan-jangan rel-rel itulah yang bergerak menjauh. Diamlah dalam ilusi. Liarkan imajinasi dan ilusi kalian.

Anggaplah trip kali ini adalah badanmu yang terjaga saat malam, menikmati atap-atap dunia. Langit yang berserak bintang, menjaga jarak dengan bulan. Mega-mega atau awan-awan yang berjalan seperti tengah karnaval. Siapa yang sebenarnya bergerak?

Ada 1.159 koleksi benda pusaka koleksi Museum Tosan Aji. Perlukah kalian mengenalnya? Jika perlu di sudut ruangan ada petugas jaga bisa diajak tanya jawab sepuasnya. Jangan buru-buru puas. Lanjutkan langkahmu. Ini Alun-Alun Purworejo. Itu Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) sebentar lagi sampai di Kompleks SMA Negeri 7 Purworejo yang konon kental dengan jejak peninggalan politik etis Belanda.

Sawang-lah bangunan bersejarah era kolonial Jepang dan Belanda di sepanjang rute perjalanan. Dengarkanlah secara seksama dua orang pemandu famtrip (Endang Narantha Dewi dan Riza Pratama Rivai). Tapi jangan biarkan ilusimu buyar. Tetap bayangkan kalian berada di masa bangunan-bangunan itu dibuat dan digunakan.

“Kalian berada titik Nol Kilometer Purworejo. Ada patok tepat di depan Gedung DPRD Purworejo. Bagi yang belum tahu, di sinilah tempatnya. Nah sebentar lagi kita tiba di Kompleks SMA N 7 Purworejo. Bangunan yang masih kokoh berdiri sejak tahun 1915,” jelas penggagas Purworejo Walking Tour Endang Narantha Dewi.

Dijelaskan, banyak komunitas yang ikut dalam kegiatan kali ini, Komunitas Pecinta Kota Lama (Kopikola) juga ikut. Penggiatnya  Widyastuti Tri Sulistyorini juga semangat. “Bu Wid sebetulnya peserta famtrip. Tapi beliau punya wawasan lebih untuk bangunan SMA N 7 Purworejo. Harus diunduh pemahaman dan pengetahuannya soal bangunan cagar budaya ini,” jelas Endang.

Ditambahkan, peserta kali ini memang didominasi generasi muda. Bagus Roro Purworejo dan Genpi. Badan Otorita Borobudur (BOB) juga ikut. Tidak hanya menyambangi tempat-tempat bersejarah. Mereka juga diajak menikmati kuliner khas Purworejo di Kedai Uncle B’s Kitchen RT 02 RW 02 Kledung Karangdalem, Banyuurip. Sebelum peserta mengenakan pakaian adat Jawa yang disediakan panitia untuk menyaksikan Gendhing Setu Legi di Pendapa Kabupaten, malam harinya.

“Purworejo Walking Tour ada berbagai paket trip. Tidak hanya di seputaran Purworejo kota, tapi juga lokasi-lokasi lain yang diinginkan wisatawan. Peserta juga bisa menikmati sensasi naik bus klasik milik berangka tahun 1950-an milik SAC. Tahun Tahun ini sudah berjalan rutin, setiap weekend,” ucap Endang.

Pemkab Purworejo dalam hal ini Dinas Kominfostandi, Dinporapar, dan Dindikbud mendukung penuh kegiatan ini. Menggabung dua Purworejo Walking Tour dan Gendhing Setu Legi. Mengenali sejarah kemudian mendengarkan langgam dan gendhing Jawa, bonus tari Anila Prahastha dan Sekar Pudyastuti. Ada juga sesi Wedhar Kawruh ihwal Gastronomi Kuliner Bagelen dari Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM Dr Sudibyo M Hum. Budayawan sekaligus sejarawan asli Purworejo.

Bupati Purworejo Agus Bastian hadir mengapresiasi para pegiat seni dan budaya  dalam trip kali ini. Ia mengaku suka dengan mereka yang sudah merawat seni budaya Jawa. Even Gendhing Setu Legi jangan hanya sebagai rutinitas, harus terus digarap dan dikembangkan. Cerita rakyat juga boleh diangkat, generasi muda perlu tahu tentang sejarah tanah kelahirannya. “Babad Purworejo mungkin banyak yang tidak tahu, bagaimana cinta kalau tidak tahu. Harus bangga sebagai warga Kabupaten Purworejo,” ucap Bastian.

Acara pun selesai, sebagian peserta berhasil memberi ruang imajinasi, ilusi. Sedikit melupakan teori heliosentrisme yang yakni bumilah yang berputar mengelilingi matahari. Mereka berhasil masuk ke ruang waktu yang sudah lama tidak diketahui. Mereka benar-benar berdiri di atas bordes kereta. Ya memang kadang membuat kepala terasa pening, tetap saja berusaha melihat jelujur rel-rel yang seolah menjauh. Kalau tidak biasa, perut juga bisa terasa mual. (tom/din)

Lainnya