Jaga Pelanggan, Perajin Tempe  Tetap Berproduksi

Jaga Pelanggan, Perajin Tempe  Tetap Berproduksi
KAYA PROTEIN: Salah satu tempat produksi tempe di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing tetap berproduksi di tengah mahalnya harga kedelai. (JIHAN ARON VAHERA/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Para perajin tempe di Purworejo tetap berproduksi di tengah melambungnya harga kedelai. Di pasar-pasar tradisional tempe dan tahu masih banyak diperdagangkan. Meskipun tetap berproduksi, para perajin memilih untuk mengurangi kapasitas produksinya. Selain itu, juga mengurangi ukuran  ukuran tempe dari biasanya.
Sulami, perajin tempe di Desa Donorejo, Kaligesing mengatakan, dia tetap membuat tempe demi menjaga pelanggan. Padahal, laba yang dia dapatkan sebagai perajin teramat kecil. Dia lebih memilih mengecilkan ukuran tempe daripada harus menaikkan harga jual.  Meskipun, ada pula perajin yang memilih menaikkan harga tetapi ukurannya tetap sama. “Kalau saya harga tetap. Kalau di desa penghasilan masyarakat juga sedikit kalau dinaikkan pasti mengeluh. Jadi, tidak apa-apa  dikecilkan sedikit ukurannya, biasanya per biji Rp 500 ukuran kecil,” ungkap dia.
Menurut Sulami, kenaikan harga kedelai tersebut sudah terjadi sejak 2021 lalu, yakni dari kisaran Rp 7 ribuan per kilogram hingga berangsur naik di kisaran Rp 11.500 per kilogram.
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi saat berkunjung ke Kabupaten Purworejo menyebutkan, kedelai adalah pasar internasional. Jika dilihat pada data 2021, Indonesia impor kedelai hampir 2,5 juta ton. “Sementara, produksi lokalnya tidak lebih dari 300 ton,” kata dia.

Terkait mahalnya harga kedelai, dia mengatakan, saat ini pasar internasional tengah mengalami permasalahan. Di antara, dalam 15 bulan terakhir ini harga urea naik 223 persen di pasar internasional. Kemudian, China membeli 60 persen dari hasil kacang kedelai dunia.”China itu membeli hampir 100 juta ton dari hasil dunia untuk kebutuhan di dalam negerinya. Untuk itu, kalau china naik belinya, harganya juga akan naik,” sebutnya.

Disebutkan, saat ini pihaknya sudah menjembatani antara importir, pengrajin, dan pedagang di pasar-pasar. Sebenarnya, untuk harga saat ini tidak lebih mahal dari harga ada Maret-Mei 2021 lalu. Untuk itu, pihaknya akan memberikan pengertian bahwa harga tersebut adalah wajar. Dengan begitu pengrajin tidak diberatkan atau dimarahi oleh pedagang.

“Kami akan terus melakukan diskusi terkait kenaikan harga tersebut baik kepada importir, perajin, pedagang, hingga gabungan koperasi juga. Kalau harganya sampai naik kembali, kami akan mengeluarkan mekanisme lain yang membantu agar tidak terlalu memberatkan,” ungkap dia. (han/din)

Lainnya