Tetap Jual Migor Rp 21 Ribu per Liter

Tetap Jual Migor Rp 21 Ribu per Liter
MASIH SEPI: Aktivitas pedagang sedang melayani pembeli di Pasar Tumenggungan kemarin (28/2).

KEBUMEN, Radar Kebumen –Minyak goreng (migor) di pasar tradisional masih belum sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Pasalnya, pedagang masih menjual migor dengan harga Rp 21 ribu per liter.

Pedagang Pasar Tumenggungan Juminah, 45, menjelaskan, dia terpaksa menjual migor dengan harga tinggi. Karena harga beli dari tengkulak per liter masih di angka RP 19 ribu. Perputaran migor di harg tersebut, diakuinya lambat.

Selama ini, kebijakan satu harga migor oleh pemerintah tidak diimbangi dengan pasokan barang yang memadai. Sehingga masyarakat masih kesulitan mencari migor yang dicanangkan pemerintah. “Bagaimana mau jual Rp 14 ribu kalau barangnya saja tidak ada,” keluhnya kemarin (28/2).

Dia mengaku, pedagang di Pasar Tumenggungan yang bisa mendapatkan migor murah hanya hitungan jari. Itu pun dengan stok yang sangat terbatas. Sehingga tak jarang, pedagang pasar dibuat dilema. “Kadang jadi serba salah. Mau jual sesuai kulakan (dari Rp 19 ribu, Red), pemerintah sudah woro-woro minyak murah,” ucapnya.

Pedagang kelontong lain Saiful Rislam, 27, menilai, pemerintah tidak semestinya mengutamakan distribusi migor ke toko ritel modern ketimbang pasar tradisional. “Kenapa di Indomaret dan Alfamart itu ada yang murah, sedangkan kami kesulitan cari barang murah. Bahkan sampai mengalami kelangkaan stok,” sesalnya.

Saiful mengaku bingung, karena negara sebagai produsen sawit terbesar justru mengalami kelangkaan minyak goreng dan fluktuasi harga. Untuk itu, pemerintah diminta segera membenahi persoalan migor. Tidak hanya bagi masyarakat, tapi juga untuk kalangan pedagang. “Harus ada evaluasi dari pemerintah. Pemerintah harus menjelaskan tuntas kenapa bisa terjadi,” tandasnya. (fid/eno/er)

Lainnya