Wilayah Lumbung Padi di Purworejo segera Memasuki Musim Panen

Wilayah Lumbung Padi di Purworejo segera Memasuki Musim Panen
PENYELAMAT: Buruh tani di wilayah Kemiri saat pergi ke sawah. Saat ini beberapa wilayah sedang memasuki musim panen. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buruh tani atau yang lebih akrab disebut sebagai buruh derep. Keberadaan mereka menarik untuk dilihat. Setidaknya dari sudut pandang sosioekonomi dan budaya.

Maret ini seharusnya menjadi dasar yang kuat para petani berbahagia. Khususnya petani di wilayah kecamatan Kemiri, Pituruh, Bruno dan beberapa wilayah lain yang menjadi lumbung pandi di Kabupaten Purworejo. Padi yang mereka tanam kurang lebih tiga bulan lamanya kini sudah memasuki musim panen.

Namun dewasa ini, banyak pemilik lahan sawah kebingungan. Sebab, selama ini mereka sudah terbiasa bergantung dengan buruh derep. Buruh derep sudah menjadi semacam dewa penyelamat bagi petani padi. Benar saja, telat panen bulir padi jadi mangsa burung, belum lagi disasar cuaca. Padi rubuh terendam air dan membiru.

Masih bisa dimaklumi jika padi-padi itu dikonsumsi sendiri. Namun ketika harus dilempar ke pasar atau masuk ke gudang Bulog, padi yang berwarna biru karena kelamaan beredam di sawah setelah rubuh diamuk angin dan tidak segera dipanen, harganya akan terjun bebas.

Bicara buruh derep, ternyata ada beberapa faktor yang menyebabkan buruh derep sulit untuk didapatkan oleh para petani pemilik lahan. Pertama, musim tanam dan musim panen yang bersamaan, tenaga buruh derep laris dipakai. Kedua, buruh derep bagi sebagian masyarakat dipandang sebagai pekerjaan kasar dan berat, sehingga sedikit orang di dalam suatu pedesaan yang mau melakukan hal tersebut.

Ketiga, profesi petani bukan menjadi prioritas karena faktor mindset yang masih melekat. Seringkali mereka yang menjadi petani justru mereka yang terputus sekolahnya atau berasal dari keluarga kurang berkecukupan. Keempat, tantangan dan harapan serta cita-cita, dimana setiap petani justru menaruh harapan tinggi kepada anak (generasi penerus) agar tidak menjadi petani seperti mereka.

Sebetulnya sebuah harapan yang baik, ketika seorang petani tidak berharap anaknya menjadi petani seperti “orang tuanya” yang tidak sejahtera. “Petani yang masih menggunakan pola-pola lama tentunya,” ucap pemuda petani, Iqbal Kholil Rohman, warga Desa Gedong, Kecamatan Kemiri, Purworejo, kemarin (3/3).

Menurutnya, jika harapan untuk tidak menjadi petani dengan alasan petani dipandang sebelah mata, itu suatu pandangan yang keliru. Bisa dibayanghkan, 10 tahun – 20 tahun kedepan, jika tidak ada petani, maka ketahanan pangan akan melemah. Pada kondisi tersebut, Indonesia akan bergantung kepada negara-negara luar sebagai pemasok atas kebutuhan pangan nasional.”Oleh karenanya, mindset dan cara pandang tehadap petani harus diubah. Sebagai generasi muda di pedesaan, saya mencoba untuk ikut merayakan panen raya. Harapannya hasil produksi bisa berbading lurus degan harga, petani tidak merasa dirugikan,” ujarnya.

Padahal, di era globalisasi ini sering mendengar banyak para petani berusaha sekeras mungkin menyekolahkan anak mereka agar bisa mendapat pekerjaan di balik meja, bukan menjadi petani seperti orangtuanya. Ini karena, kehidupan para petani di desa jauh dari kata sejahtera.”Sementara di sisi lain, profesi petani sangat penting sebagai jaminan pangan. Bisa jadi, 20 tahun atau 50 tahun ke depan, bahan makanan akan semakin susah didapatkan. Sebab hanya sedikit generasi saat ini yang mau menjadi petani,” imbuhnya.

Petani lainnya, Fajar Muhammad, warga Kemiri mengatakan, secara demografis masayarakat di tempat tinggalnya masih banyak yang berprofesi sebagai petani. Ketika memasuki musim panen, para pemilik sawah masih mengandakan tegana buruh derep, untuk memanen padi di sawah.

Ada beberapa istilah dalam buruh derep. Poro wolu (bagi delapan,red), buruh derep dengan sistem ini akan medapat bonus makan siang. Kemudian poro pitu (bagi tujuh dengan tanpa makan,red), poro nenem (bagi enam, biasanya buruh derep mendapat tambahan tugas monjo atau membuat lubang semai kedelai setelah padi dituai,red).

Sistem upah juga beragam di masing-masing daerah, biasanya tergantung kesepakatan dan pemberlakuan umum di tempat tersebut. Biasanya poro wolu (bagi delapan dari hasil padi yang dituai) diberlakukan oleh para tukang tebas (istilah penyebutan bagi pembeli padi yang langsung datang ke sawah,Red). “Nah poro pitu diberlakukan oleh petani yang akan menuai padi di lahannya sendiri. Sedangkan poro nenem itu diberlakukan petani yang akan menanam kedeleai setelah musim padi,” katanya. (din)

Lainnya