Mengenang sang Pencipta Indonesia Raya

Mengenang sang Pencipta Indonesia Raya
SANG PAHLAWAN: Tempat kelahiran WR Soepratman yang kini dinamakan Memorial House WR Soepratman, di Dusun Trembelang, Somongari, Kaligesing. Bangunannya masih terawat dengan baik dan terjaga keasliannya. (RADAR PURWOREJO FILE)

RADAR PURWOREJO – Warga Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing akan menggelar acara khusus untuk memperingati hari ulang tahun ke-119 Wage Rudolf (WR) Soepratman. Untuk mengenang jasa pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya itu, mereka akan mengadakan Festival WR Soepratman yang dikemas dengan berbagai rangkaian kegiatan yang menarik.”Rencananya akan kami adakan pada Sabtu (19/3) mendatang,” ujar bendahara acara Adina Subekti saat dikonfirmasi Radar Purworejo, kemarin (8/3).

Even tersebut menjadi momen untuk napak tilas atau mengenang jasa mendiang semasa hidupnya sehingga generasi penerus tidak akan lupa.Dikatakan, ada beberapa kegiatan yang menarik yang sudah dijadwalkan. Antara lain, senam aerobik, jalan sehat, live music, pameran UMKM, pentas kesenian dolalak, hingga spesial perform dari Dewan Kesehatan Purworejo. “Acaranya dipusatkan di Balai Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing dari pagi pukul 08.00 sampai selesai,” sambung dia.

Disebutkan, untuk jalan sehat titik start ada di Balai Desa Somongari. Rutenya yaitu melalui Sawahan, Ngiroito, Sejanur, dan berakhir di kediaman WR Soepratman. “Tiket jalan santai per lembar Rp 4 ribu, tapi jika membeli tiga lembar harganya Rp 10 ribu. Nantinya akan ada doorprize,” ungkap Dina sapaannya itu.

Seperti diketahui, Desa Somongari merupakan tanah kelahiran sang pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tepatnya berada di Dusun Trembelang, Desa Somongari pada 19 Maret 1903. Rumah peninggalannya pun masih terawat hingga sekarang. Kini, rumahnya menjadi museum yang diberi nama Memorial House WR Soepratman. ”

Panut, selaku penjaga rumah pusaka itu menyebutkan, posisi rumah WR Soepratman masih sama seperti dulu, yaitu menghadap ke selatan dan masih sangat dijaga keasliannya. Pernah direnovasi pada 2007 lalu, diganti dengan kayu nangka. Namun, halaman sekitar masih seperti aslinya. “Lantai rumah juga dibiarkan asli berlantai tanah,” ungkapnya.

Tepat di bagian kanan depan halaman memorial house, terdapat tempat penimbunan plasenta dari WR Soepratman. “Orang Jawa menyebutnya ari-ari dan pasti dikubur di depan rumah,” tandasnya. (han/din)

Lainnya