Mahasiswa Kelompok Rentan HIV/AIDS

Mahasiswa Kelompok Rentan HIV/AIDS
PREVENTIF: Seminar Mewujudkan Generasi Intelektual Bangsa yang Tangguh di Kampus Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP), kemarin (10/3). (ISTIMEWA)

RADAR PURWOREJO – Persebaran kasus HIV/AIDS di Kabupaten Purworejo dalam rentang waktu 2016-2021 paling banyak terjadi di Kecamatan Purworejo. Sedangkan terendah di Kecamatan Bagelen. Adapun berdasarkan data 2018-2021, risiko pekerjaan paling banyak adalah pegawai swasta, kemudian PNS, disusul mahasiswa.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo dr Sudarmi MM mengatakan, HIV belum tentu menjadi AIDS. Syaratnya ditangani dengan baik dan rutin minum obat. “Silahkan cek kesehatan. Sebab HIV tidak kelihatan. Jangan sampai terlambat menjadi AIDS,” ucapnya dalam seminar Mewujudkan Generasi Intelektual Bangsa yang Tangguh di Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP), kemarin (10/3).

Ditambahkan, HIV/AIDS bisa ditularkan melalui transfusi darah (jarum suntik bergantian,red), cairan sperma atau vagina dan air susu ibu. Tidak menular melalui ciuman, salaman, pelukan, minum gantian atau buang air di tempat umum. HIV/AIDS menyerang sel darah putih. gejala klinisnya bisa dilihat dari ujung rambut sampai telapak kaki, mulai dari selaput otak, sariawan penuh tidak sembuh-sembuh dan yang lainnya. “AIDS ini tidak bisa disembuhkan, tetapi mortalitasnya bisa ditekan,” jelasnya. Bahkan, ada dua rumah sakit di Purworejo dan semua puskesmas juga bisa untuk rujukan.

Sudarmi mengungkapkan, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian, UMP sejauh ini cukup gencar untuk melindungi mahasiswanya. Termasuk seminar ini adalah bentuk dukungan yang luar biasa bagi pemerintah dalam melakukan pencegahan. Sebab, eliminasi kasus HIV/AIDS pertama yakni bagaimana menemukan kasus sebanyak-banyaknya, kemudian dikelola dengan baik.”Tahun 2020 kami memasang rumus atau target 90:90:90 artinya mendeteksi minimal 90 %, terkelola 90 % dan mencegah mortalitas 90 %. Tahun 2030 kami naikkan lagi menjadi formasi: 95-95-95 (capaian 95%) dengan variabel yang sama,” ungkapnya.

Narasumber lainnya yakni Kasat Res Narkoba Polres Purworejo AKP Khusen Martono SH MH. Menurutnya, narkoba nyaris sama dengan HIV/AIDS. Menuntut keterbukaan dan tidak takut untuk cek ke dokter, serta berupaya untuk kembali normal dan sehat. Pihaknya berharap mahasiswa tidak lengah terhadap ancaman narkoba. Mahasiswa sebagai insan intelektual juga diharapkan mampu menjadi pemerhati atau agen kontrol sosial, yakni dengan cara melaporkan ketika menjumpai atau mengetahui adanya peredaran narkoba. “Jangan segan melapor. Kami akan segera membantu, menindaklanjuti,” ucapnya.

Ketua Panitia Seminar Meriam Esterina mengatakan, tujuan kegiatan kali ini yakni untuk menebalkan pemahaman mahasiswa tentang bahaya narkoba dan HIV/AIDS. Narkoba dan HIV/AIDS menjadi momok yang cukup mengkhawatirkan, dan seminar serupa adalah upaya preventif untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Dia ingin mahasiswa UMP menjadi generasi penerus yang kuat intelektual, tangguh mental dan spiritual. “Generasi anti narkoba, HIV/AIDS pantang korupsi, memiliki jiwa nasionalisme tinggi,” ucapnya.

Wakil Rektor III UMP Budi Setiawan MSi menambahkan, satu tema menarik dari dua topik yang dijadikan satu. Narkoba dan HIV/AIDS itu setali tiga uang, harus diperangi. Kedua topik ini akan membuat siapa saja nangis ketika masuk dalan jeratannya. “Maka dari itu mari kita cegah dan lawan bersama , dua faktor perusak generasi bangsa ini,” tegansya. (tom/din)

Lainnya