Ajak Masyarakat Belanja di Warung Tetangga

Ajak Masyarakat Belanja di Warung Tetangga
DILANTIK: Pelantikan pengurus Perkumpulan Warung Sembako Indonesia (Perwasi) kecamatan Mirit, Sabtu (12/3)

KEBUMEN, Radar Kebumen – Perubahan kebijakan bantuan sosial (bansos) dari sembako menjadi uang tunai disambut baik Perkumpulan Warung Sembako Indonesia (Perwasi) Kebumen. Di antaranya dengan mengajak warga untuk berbelanja di warung tetangga.

Langkah ini diharapkan mengembalikan kembali gairah sektor perekonomian khususnya warung kecil yang lesu diterpa pandemi Covid-19.Ketua Perwasi Kebumen Sutrisno menyampaikan, ia mengajak masyarakat penerima manfaat bansos untuk melarisi dagangan warung terdekat dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga. Gerakan ini pada prakteknya sedikit banyak akan berdampak pada pemulihan ekonomi. “Bukan cuma lebih dekat tapi cara sederhana bantu UMKM bangkit,” ungkapnya, saat pelantikan pengurus Perwasi di Aula Kantor Kepala Desa Sarwogadung, Mirit, Sabtu (13/3).

Selama pandemi, terang Sutrisno, warung yang tergolong sebagai UMKM mengalami ketersendatan. Beragam cara dipertaruhkan demi keberlangsungan usaha. Bahkan tak jarang ada yang harus menerima konsekuensi gulung tikar. “Kami antusias karena sembako kan kebutuhan dasar masyarakat. Bantuan yang diberikan kemudian dibelanjakan agar warung lebih survive,” ujarnya.

Selain mempermudah memasok kebutuhan sehari-hari. Soal harga, kata Sutrisno, di warung kecil dinilai cukup bersaing. Barang yang dijajakan pun tidak jauh berbeda dari produk yang terpajang di etalase toko modern. “Cenderung lebih terjangkau ya karena warung kelontong kan tidak memikirkan cost macam-macam. Kulakan terus dijual lagi, prinsip cari untung asal buat muter dagangan lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia tidak memungkiri hadirnya toko modern kini mulai menggerus keberadaan warung kecil. Belanja di warung tetangga ini menjadi wujud perlawanan terhadap dominasi ritel modern yang kian menjamur. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi akan terjaga karena masyarakat sendiri sadar bahwa di lingkungan terdekat ada ruang perputaran ekonomi. “Sebenarnya sama-sama menerima manfaat. Masyarakat dapat manfaat terjangkau, dari sisi pedagang bisa laku. Itulah konsep sejahtera bersama,” ucapnya.

Sementara itu, pelaku usaha warung kelontong Asih Sugati, 41, berharap bansos dari pemerintah berupa uang tunai bisa dirasakan oleh warung kecil. Ia mengungkapkan, kondisi masa pandemi membuat tidak sedikit warung terjepit dengan keadaan. Gerakan belanja di warung tetangga ini diharapkan menjadi solusi embrio putaran ekonomi yang merata. “Mau mengadu ke siapa, semua juga sedang merasakan perihatin. Minimal kalau bantuan buat belanja di warung bisa tambah semangat warung,” kata pemilik warung di Mirit.

Ia mengajak masyarakat kembali membudayakan berbelanja di warung terdekat. Selain pertumbuhan ekonomi, dalam prosesi berbelanja juga terdapat kearifan lokal yakni nilai interaksi sosial yang kini mulai memudar. “Bayangkan belanja senilai Rp 10 ribu saja sudah senang. Bukan soal jual beli karena bisa saling bertemu,” ungkapnya. (fid/pra/er)

Lainnya