Sawah Terendam, Padi Bisa Jadi Sampah

Sawah Terendam, Padi Bisa Jadi Sampah
SISA ASA: Supartono, 55, dan istri pemilik sawah di Desa Pacor, Kemiri mencoba menyelamatkan padi yang roboh terendam air. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Purworejo sejak Senin Sore (14/3) menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. Sungai-sungai meluap, jalan-jalan tergenang, air masuk ke permukiman, dan merendam area persawahan.

Kabid Sarana Pertanian dan Perlindungan Tanaman, Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPKP) Kabupaten Purworejo, Jayadi menyebutkan, belum semua kecamatan melaporkan dampak banjir kali ini. Yang sudah di antaranya Kecamatan Banyuurip, banjir merendam 50,4 hektare tanaman padi usia 70 hari. Di Kecamatan Pituruh seluas 250 hektare. Kecamatan Bayan 95 hektare dan  di Kecamatan Purwodadi 3,56 hektare tanaman cabai.

Itu data sementara. Masih ada beberapa kecamatan langganan banjir belum lapor. Di antaranya Kemiri, Butuh, Ngombol, Bagelen, dan Grabag. Kalau biasanya, banjir tidak lama, air sangat cepat surut. “Kecuali di Kecamatan Butuh, beberapa titik sawah memang di bawah permukaan sungai,’’ jelasnya, kemarin (15/3).

Pantauan Radar Purworejo di Kecamatan Kemiri, banjir merendam hektaran sawah di desa Desa Gedong, Gesikan, Paitan, Waled, Rejosari, Pacor dan beberapa titik sawah di desa desa lainnya yang dekat dengan irigasi. Sementara banjir di Desa Gedong, dipicu meluapnya Sungai Tunggorono dan beberapa sungai lain. Padahal, radius sungai dengan area sawah terbilang cukup jauh. Sekitar 1 kilometer.

“Sejak tadi malam, banjir menggenangi jalan, sawah dan permukiman warga. kedalamannya beragam, untuk sawah di desa kami yang terendam lebih dari 7 hektare. Padi ambruk, jika hujan air tak cepat surut petani bisa gagal panen,” ucap salah satu petani, Fajar Muhammad N.

Menurutnya, sebagai petani yang menghadapi masa panen, sejak awal ia memang sudah cemas, berkejar dengan cuaca sementara mencari buruh derep untuk memanen padi sulitnya minta ampun. Akhirnya terbukti, saat berpacu dengan hujan, justru banjir yang datang. “Kerugian benar-benar di pelupuk mata,” keluhnya. Jangankan padi yang belum di panen di sawah, padi sudah dipanen juga bernasib sama. Padi yang sudah dijemur siap giling juga kalah dan basah disasar banjir yang merambat ke pelataran. Sudah ditutup terpal sekalipun. “Di beberapa titik terdekat dengan sungai atau irigasi padi milik warga bahkan ada yang terseret air,” ucapnya.

Diungkapkan, padi kering siap giling yang terendam banjir dipastikan kualitasnya menurun. Sebab, padi basah atau belum benar-benar kering ketika digiling akan hancur. Beras berubah menjadi menir (bulir beras yang tidak utuh,red). Beras seperti jatuh harganya jika dijual di pasaran. “Desa kami memang berada di dataran rendah, kendati kemiri punya dataran tinggi di utara, desa kami salah satu penghasil padi terbaik di Kemiri,” ungkapnya.

Padahal, produktivitas padi kali ini terbilang sangat bagus. Ditaksir bisa mencapai 1 ton per hektarenya. Sebab musim ini padi tumbuh sangat baik, juga minim serangan hama. Namun ternyata, tantangannya justru beralih ke cuaca ekstrem. Banjir masuk sawah, merendam padi yang rata-rata sudah siap panen berumur 100 hari ke atas, batang roboh, padi terendam air dekat sekali dengan lumpur. “Menjadi bukti, langkah antisipatif itu penting, prioritas pembangunan desa harus sejalan sinergi dengan kepentingan petani peka terhadap bencana, sehingga kedepan kemungkinan-kemungkinan terburuk dapat dihindari,” harapnya.

Petani lain, Supartono, 55, warga Katerban, Kecamatan mengatakan, ia memiliki lahan seluas 900 meter persegi di Desa Pacor, Kecamatan Kemiri. Sawah itu ditanami padi jenis Ciherang, usianya kini sudah 110 hari (siap panen). Namun hujan dan banjir lebih cepat, tanaman padinya yang awalnya terdeteksi terserang hama, semua roboh dihajar hujan dan terendam banjir.”Saya dan istri langsung turun sendiri, kami sebetulnya ingin sekali menikmati hasil panen kali ini, minimal bisa balik modal. Jadi mau tidak mau harus ditelateni seperti ini, kalau tidak segera dipanen, padi bercampur dengan lumpur, jadi sampah,” ucapnya getir.

Supartono awalnya sempat memprediksi, tanaman padi seluas 900 meter persegi itu mampu produksi 6 kuintal, ia harus ikhlas dengan cuaca. “Petani ya seperti ini, ini alam jadi ya sulit. Sekarang yang penting saya fokus panen cepat, menyelamatkan padi,” katanya. (tom/din)

Lainnya