Di Butuh, Banjir Belum Surut

Di Butuh, Banjir Belum Surut
DIGENDONG: Seorang nenek terpaksa digendong saat proses evakuasi warga di titik banjir terparah wilayah selatan di Kecamatan Butuh, Purworejo, kemarin. (HENDRI UTOMO / RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO –  Ruas jalan Nasional Purworejo-Kebumen di Desa Klepu, Kecamatan Butuh masih tergenang banjir, hingga kemarin (16/3). Kondisi itu memaksa kendaraan roda dua balik kanan. Sementara kendaraan roda empat yang berani bisa melintas tetapi harus pelan-pelan. Sepeda motor belum bisa lewat. Kalaupun memaksa pasti mogok di tengah. Itu karena, ketinggian air masih sekitar 50 sentimeter – 60 sentimeter. “Titik ini masih kami jaga 24 jam dengan personel bergantian,” ucap anggota Satlantas Polres Purworejo Aiptu Suranto.

Ditegaskan, sementara waktu arus kendaraan khususnya roda dua dialihkan ke jalur alternatif, yakni melalui Jalan Lintas Selatan (JLS) atau Daendels. Untuk truk dan bus dan kendaraan roda empat yang tidak ceper dipandu agar tidak terperosok keluar badan jalan. Sebab di beberapa titik jalan nasional masih belum kelihatan. Kendaraan roda empat harus lewat tengah. Sebab di situ ketinggian air juga lebih dangkal. “Ya harus bergantian. Kami berlakukan sistem buka tutup. Cuma bisa satu jalur,” tegas kepala Pos Satlantas Pendowo, Kecamatan Purwodadi ini.

Aminuddin, 41, warga Dusun Tambakrejo, Desa Dlangu, Kecamatan Butuh, mengatakan, banjir belum juga surut dan masuk ke rumah-rumah warga Dlanggu. Selama ini ia juga sudah menjadi pelanggan banjir,. Namun banjir kali ini lebih parah dibanding tahun lalu. Air naik satu meter lebih, sampai hari ini masih bertahan. Belum surut. “Ini hampir sama dengan banjir 2013. Patokannya jalan nasional saat itu juga lumpuh,” ucapnya.

Suyanto, 40, warga Desa Dlangu mengungkapkan hal senada. Dia bahkan harus mengungsi di salah satu rumah makan di desanya sejak banjir kali pertama masuk. Sebab, air satu lutut di dalam rumah. Bahkan di luar lebih dalam lagi. Sedangkan bantuan sudah ada, yakni makanan dan kasur busa. Sementara obat-obatan belum. Namun petugas mengatakan, jika ada keluhan warga disuruh lapor. “Harapan kami sungainya dinormalisasi agar banjir tidak terus terjadi,” harapnya.

Sedang Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat mengunjungi lokasi pengungsian mengatakan, hujan yang terjadi beberapa hari ini lanjut dia memang tergolong ekstrem. Curah hujan melebihi 200 mm membuat sejumlah tanggul sungai di Purworejo jebol.”Kami minta BBWS(balai besar wilayah sungai) segera memperbaiki, hari ini mulai dikerjakan. Dinas PSDA saya minta patroli sungai dan mengecek lokasi-lokasi yang rawan. Kalau ada yang kira-kira mendesak diperbaiki, maka harus segera diperbaiki,” tegasnya.

Beberapa daerah di Jateng lanjut Ganjar memang mengalami bencana banjir. Selain di Purworejo, ada juga banjir di Grobogan, Pati, Kebumen dan Banyumas. Namun banjir di Grobogan dan Pati sebentar saja sudah surut. “Di Kebumen laporannya juga sudah surut dan pengungsi sudah kembali. Ini saya mau cek ke sana dan memastikan semua aman. Saya minta seluruh kepala daerah khususnya BPBD siaga, mencermati laporan BMKG dan menyebarkan pada masyarakat agar semua siap. Dengan kondisi perubahan cuaca ekstrem ini, tidak ada kata lain selain semua siaga dari bencana,” paparnya.(tom/din)

Lainnya