Dorong Perubahan Keppres No 10 Tahun 2013

Dorong Perubahan Keppres No 10 Tahun 2013
LURUSKAN SEJARAH : Monumen WR Soepratman di Perempatan Pantok Jalan Jenderal A Yani merupakan simbol sekaligus penunjuk arah tempat kelahiran WR Soepratman. Patung itu dibangun tahun 1983, sampai saat ini posisi dan bentuknya masih sama seperti dulu waktu didirikan. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Wage Rudolf (WR) Soepratman lahir pada 19 Maret 1903 di Dusun Trembelang, RT 01 RW 03, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Tempat kelahirannya kini diabadikan sebagai Memorial House. Lokasinya sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Purworejo.

WR Soepratman lahir dari pasangan Joemeno Kartodikromo  dan Siti Senen. Namanya tidak bisa lepas dari jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dialah pencipta lagu Indonesia Raya. Lagu yang dibuatnya dengan taruhan nyawa. Ya! lagu Indonesia Raya mampu membakar nasionalisme. Bahkan menyatukan rakyat Indonesia.

Kekuatan lagu Indonesia Raya itu dibuktikan pada Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Meskipun lagu itu sebetulnya sudah selesai dibuat WR Soepratman 1926, dan hampir dibawakan pada Kongres Pemuda I (30 April – 2 Mei 1926).

Hingga akhirnya, Soegondo Djojopoespito berhasil membuat WR Soepratman percaya diri, berani membawakan lagu Indonesia Raya dengan instrumen dan paduan suara pada Kongres Pemuda II. Menjadi semacam tali pengikat persatuan para pemuda seluruh nusantara, lagi itu pun mulai mendengung di hampir setiap pertemuan pergerakan nasional.

Belanda kebakaran jenggot, melarang lagu tersebut dinyanyikan di luar ruangan. Kata “merdeka-merdeka” dalam lagu Indonesia Raya diminta untuk dihapus. Seruan Belanda itu justru semakin menguatkan semangat rakyat untuk  kemerdekaan. Hanya dua bulan lagu diperkenalkan, Indonesia Raya langsung trending, menjadi lagu hit bergenre pergerakan dan perjuangan kala itu.

Datanglah Yo Kim Tjan, lagu kebanggan bangsa Indonesia mulai direkam dan diperbanyak dalam piringan hitam. Indonesia Raya semakin masif terdengar. Sejak saat itu, WR Soepratman mulai menjadi bidikan, diincar oleh Belanda, diinterogasi PID (intel Belanda,Red). Volksraad bahkan turun langsung. Kata “merdeka-merdeka” dalam lagu Indonesia Raya akhirnya masih boleh diucapkan. Tetapi! hanya di ruang tertutup.

WR Soepratman akhirnya ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. Rabu Wage 17 Agustus 1938 sekitar pukul 00.00, putra terbaik Kabupaten Purworejo itu menghembuskan nafas terakhir, di sebuah rumah yang berada di Jalan Mangga 21, Surabaya. Rumah itu kini diabadikan sebagai museum WR Soepratman. Di sana juga lengkap dengan koleksi duplikat biola legendaris WR Soepratman. Sumbangsihnya WR Soepratman luar biasanya, beliau meninggal sebelum kemerdekaan diraih. Hingga kini, karya monumental gubahannya menjadi kebanggaan rakyat Indonesia, menjadi pengiring kibaran sang saka Merah Putih.

“Namun ada satu yang masih mengganjal. Hari Musik Nasional sampai saat ini masih diperingati pada 9 Maret. Sementara WR Soepratman lahir pada tanggal 19 Maret 1903. Padahal, sesuai Keputusan Presiden (Keppres) No 10 Tahun 2013, penetapan Hari Musik Nasional berdasarkan hari kelahiran WR Soepratman,” ucap Ketua DPRD Kabupaten Purworejo Dion Agasi Setiabudi, kemarin (18/3).

Ditegaskan, DPRD Kabupaten Purworejo, Pemkab Purworejo dan seluruh masyarakat Purworejo pemilik ikatan historis dengan WR Soepratman mendorong perubahan Keppres Nomor 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan Hari Musik Nasional berdasarkan tanggal lahir WR Soepratman. Kala itu, dipercayai 9 Maret 1903 merupakan hari lahir WR Soepratman.

“Namun bukti dan fakta sejarah telah ditemukan, WR Soepratman ternyata lahir 19 Maret 1903. Jika mengacu tanggal lahir, maka Hari Musik Nasional harus diubah   19 Maret. Distorsi sejarah harus dicegah, sejarah harus diluruskan. Putusan pengadilan sudah dibacakan, berkekuatan hukum tetap (inkracht). Putra terbaik Purworejo itu lahir 19 Maret 1903, bukan 9 Maret 1903,” tegasnya.

Menurutnya, pelurusan sejarah ini sebetulnya tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat Purworejo tetapi seluruh rakyat Indonesia. Sudah tidak ada perdebatan, putusan pengadilan sudah jelas, data dukung dan faktanya sudah lengkap. Permasalahannya hanya bagaimana mendorong pusat untuk segera merubah dan menerima fakta sehingga tidak terjadi kesesatan informasi dan sejarah. “Bicara 19 Maret 1903 bukan lagi bicara Purworejo, tetapi Indonesia,” tegasnya.

Dijelaskan, Pemkab Purworejo memang harus proaktif untuk meluruskan fakta sejarah WR Soepratman. Sebab memiliki hubungan secara historis sebagai tempat kelahiran. Hari Musik Nasional harus berubah dai 9 Maret menjadi 19 Maret. Sesuai dengan fakta sejarah. Langkah yang perlu diambil yakni berkirim surat dengan Presiden melalui KSP secara resmi. “Harus ada keppres  baru yang mengoreksi dan menggantikan Keppres Nomor 10 Tahun 2013 tentang Penetapan Hari Musik Nasional. Komunikasi  informal juga penting selain langkah formil,” jelasnya.

Ditambahkan, pelurusan sejarah dengan dasar fakta dan putusan pengadilan buka bicara untung dan rugi secara langsung bagi Purworejo. Namun lebih kepada tanggung jawab moral, jangan sampai ada distorsi informasi dan sejarah yang kemudian seolah keputusan pengadilan itu dianggap tidak ada. “Dasarnya data dan fakta sejarah sehingga pengadilan memutuskan. Sekali lagi, jangan sampai ada distorsi sejarah, hormati putusan pengadilan, penetapan hari musik harus mengikuti,” ucapnya. (tom/din)

Lainnya