Rias Lawet Emas Rinonce Terinspirasi Burung Lawet

Rias Lawet Emas Rinonce Terinspirasi Burung Lawet
KEKINIAN: Model gaya rias pengantin Lawet Emas Rinonce sebagai aset kekayaan tata rias Kebumen.

KEBUMEN, Radar Kebumen – Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Kebumen berhasil menuangkan landscape kekayaan alam dalam sebuah karya tata rias. Konsep yang diusung tidak meninggalkan ciri khas Kebumen yakni burung lawet sehingga diberi nama rias Lawet Emas Rinonce.

Ketua Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Kebumen Sri Yuliastuti Faqih mengatakan, selain sebagai aset kekayaan seni tata rias, Lawet Emas Rinonce menjadi ikon kebanggaan para pekerja lokal yang menekuni bidang wedding organizer. “Tentu menjadi bagian penting bagi kami. Ide dan gagasan teman-teman berbuah hasil monumental,” katanya, kemarin (26/5).

Pihaknya sengaja menginisiasi pembuatan tata rias tersebut sebagai ajang mengenalkan kekayaan lokal Kebumen kepada masyarakat luas. Sebenarnya, kata Faqih, konsep rias pengantin jawa itu sudah dicetuskan dari 2014 silam. Namun demikian baru sedikit masyarakat yang mengenal. “Dulu ada imbauan dari gubernur buat rias, kami langsung buat. Tugasnya sekarang mengenalkan karena kebanyakan minat rias khas Solo dan Jogja,” ucapnya.

Dilihat dari busana, tata rias Lawet Emas Rinonce cukup menggambarkan kekayaan alam Kebumen. Warna hijau dan biru lebih dominan menandakan perpaduan bentang alam gunung dan lautan. Dari segi Aksesoris yang dikenakan tidak beda jauh dari konsep rias adat jawa lain, seperti blangkon, keris, kalung dan beskap. Hanya saja pada aksesoris lebih cenderung memunculkan bentuk lawet. “Burung Lawet kami sengaja tampilkan di busana rias. Orang taunya Kebumen itu ya burung Lawet,” ucapnya.

Faqih mengatakan, aksesoris yang menempel pada busana pengantin pria maupun wanita semua diambil dari produk lokal. Termasuk kain batik jenis Sekar Jagat yang diambil dari sentra batik Desa Tanuraksan. “Biar produk UMKM juga bisa berdaya dan berani bersaing. Perputaran ekonomi jadi jalan semua,” lanjutnya.

Secara filosofis, lanjut Faqih, tata rias Lawet Emas Rinonce tidak menghilangkan sisi religius dan nasionalis. Bisa dilihat dari cunduk mentul bentuk lawet pada bagian kepala berjumlah lima. Ini menandakan butir pengamalan Pancasila. Ada juga 19 simbol air liur Lawet menggunakan kembang melati putih. Aksesoris ini menggambarkan jumlah rakaat salat. “Air liur Lawet kan dikenal obat mujarab segala penyakit. Kami tuangkan di bagian rambut dengan jumlah hitungan salat,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kebumen Asep Nurdiana mengatakan, pihaknya menaruh harapan para pekerja rias terus mengembangkan potensi berbasis kearifan lokal. Dengan begitu, masyarakat akan lebih mengenal kekayaan Kebumen dari tata rias pengantin. “Ciri khas saya yakin akan jadi daya tarik tersendiri dalam rangka nguri-uri budaya dan bernilai ekonomi,” ujarnya. (fid/pra/er)

Lainnya