Teman Ngopi Pagi, Terkadang Gatal di Mulut

Teman Ngopi Pagi, Terkadang Gatal di Mulut
MEMPUR: Warga menata surinama sebelum diolah di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Senin (5/4). (JIHAN ARON VAHERA/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Masyarakat Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, memiliki camilan khas. Bahannya dari surinama, sejenis ubi talas. Bisa diolah menjadi kulupan, keripik, gethuk, dan sebagainya.

Mungkin, sebagian besar masyarakat Kabupaten Purworejo belum tahu umbi-umbian jenis ini. Masyarakat di Desa Donorejo biasa menyebut umbi-umbian ini dengan istilah surinama.

“Pohonnya mirip dengan ubi talas. Hanya, pohonnya warnanya hijau. Kami belum mengetahui secara pasti familianya, tetapi mirip dengan talas. Daerah lain sepertinya jarang mengkonsumsi ini,” ujar Keminah, 70, warga Desa Donorejo, kepada Radar Purworejo Senin (5/4).

Warga Desa Donorejo mengolah surinama menjadi cemilan. Camilan tersebut biasa dimakan saat pagi hari. Sebagai teman saat menikmati secangkir teh atau kopi.

“Teksturnya ada yang mempur (empuk) dan ada yang gonyeh (tidak empuk). Gonyeh cenderung gatal,” terangnya.

Surinama bisa diolah dengan direbus atau digoreng. Surinama biasa diolah menjadi gethuk, keripik, dan kulupan.

“Kalau tidak beruntung, dapatnya gatal. Terkadang surimana itu gatal di mulut. Tapi, kalau pas dapat yang tidak gatal, enak,” tegasnya.

Ketika merasa gatal saat memakan surinama, warga langsung membuangnya. Di sini kan banyak yang pelihara ayam. Biasanya buat pakan ayam juga,” kata dia.
Dia mengatakan, biasanya ukuran surinama besar sehingga ada yang menyebut sundo babon. “Ukurannya bisa sampai sepaha-paha manusia. Tumbuhnya juga gampang. Di mana saja bisa,” sebut dia.

Tanaman surinama itu banyak tumbuh di hutan atau kebun. Surinama muncul di kala musim hujan. “Musim hujan nanem. Musim panas panen,” ungkapnya.
Ukuran surinama yang besar membuat lumayan sulit untuk mengambilnya. Sebaba, bagian umbi surinama yang berada di bawah tanah.

“Kalau mau ngambil itu rekasa (kuwalahan) karena dalem. Kudu ngeduk (menggali) lemah (tanah). Kadang juga ada anak-anaknya kecil-kecil begitu, itu namanya sundo kalau di sini menyebutnya. Diolahnya sama, buat keripik atau direbus begitu saja kemudian dimakan, juga enak,” sambung dia. (han/amd)

Lainnya