Cari Migor Curah pun Harus Antre

Cari Migor Curah pun Harus Antre
DEMI BISA MENGGORENG: Antrian warga tampak mengular di sebuah pangkalan minyak goreng, Jalan Kolopaking, Kebumen, Kamis (24/2). Dalam beberapa minggu terakhir, warga kesulitan emndapatkan minyak goreng. Kalau pun ada harus antre. (M Hafied/Radar Kebumen)

RADAR KEBUMEN – Pemandangan tak biasa terlihat di sebuah pangkalan minyak goreng (migor) di Jalan Kolopaking, Kebumen. Sedari pagi puluhan masyarakat rela antre berjam-jam demi mendapat giliran belanja minyak goreng jenis curah.

Pantauan di lokasi, antrian mengular di depan pangkalan yang didominasi oleh para kaum ibu. Mereka rata-rata langganan yang merupakan pedagang makanan dan gorengan. Ditengah antrian, ada pula pedagang kelontong yang rela bersusah payah mendapatkan migor curah untuk dijual kembali. “Habis subuh sudah siap-siap bawa jerigen takut tidak kebagian. Yang penting datang dulu aja timbang sampai sini habis,” kata seorang pemburu minyak goreng curah, Nur Alfiyah, Kamis (24/2).

Nur, yang saban hari jualan gorengan tersebut memilih minyak goreng curah untuk kebutuhan berjualan. Minyak goreng curah baginya merupakan barang mewah di tengah harga minyak kemasan yang tidak menentu. “Jadi alternatif intinya, kalau yang kemasan kan harga kocek sekian ribu. Ini curah cuma Rp 12.800 sekilo,” paparnya.

Hal sama diungkapkan Sarinah, ia rela berpanas-panasan demi selisih harga migor. Ia mengaku sudah berkeliling mencari migor namun harga yang ditawarkan cukup membuat kantong kempis. “Ada yang kemasan, tapi harga setok lama. Mungkin pedagang kalau jual harga sekarang rugi karena ambilnya juga sudah mahal,” ungkapnya.

Ia pun menaruh harapan besar kelangkaan minyak goreng yang berimbas pada melambungnya harga bisa diatasi oleh pemerintah. “Kalau bisa pemerintah ada semacam gebyar pasar gitu, karena harga bahan pokok sekarang minta ampun,” sambungnya.

Sementara, pemilik pangkalan Muhammad Faiz, 57 mengatakan, tidak ada syarat administrasi khusus bagi masyarakat yang ingin mendapatkan minyak goreng curah. Hanya saja, masing-masing setiap pembelian dibatasi demi pemerataan. “Tidak ada syarat KTP atau yang lain. Yang datang kami layani. Tapi ya itu setiap pembeli satu jerigen kapasitas 10 kilogram,” ucapnya.

Faiz menjelaskan, fenomena antrean terjadi semenjak pemerintah pusat menetapkan pemberlakuan minyak goreng satu harga. Dalam sehari, tidak kurang toko pangkalannya mampu menghabiskan enam ton minyak goreng curah untuk dijual ke masyarakat. Dia mengaku mendapat kiriman dari Semarang. Rerata satu tangki habis satu hari atau dua hari dengan kapasitas enam ton habis. “Kalau yang besar isi 20 ton juga kadang habis,” tuturnya. (fid/pra)

Lainnya