Obat Sirup Belum Ditarik

Obat Sirup Belum Ditarik
DILARANG: Sejumlah apotek maupun fasyankes di Kota Magelang sudah tidak melayani penjualan obat sirup. Mengingat banyak kasus gagal ginjal akut yang disebabkan oleh obat sirup.

MAGELANG, Radar Purworejo – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang memberikan instruksi kepada seluruh apotek maupun fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk tidak memperjualbelikan tiga jenis obat sirup. Obat tersebut masih berada di apotek, karena belum ditarik distributor.
Seorang Apoteker di Apotek Kawatan Hosanna Surjowidagdo mengaku, sudah mengamankan obat sirup yang tidak boleh diedarkan. Dia juga sudah memasukkan sebanyak tiga jenis atau 83 obat sirup Unibebi ke dalam kardus. Hanya tinggal menunggu penarikan dari distributor. Rencananya, akan diambil pada Senin (31/10) mendatang. Dia menyebut, harga obat sirup jenis Unibebi ini dihargai Rp 6 ribu.
Sedangn, Kepala Dinkes Kota Magelang Istikomah menuturkan, saat ini, pihaknya secara berjenjang akan mengikuti formasi dan meneruskan regulasi yang ada. Dia juga telah menginstruksikan kepada sejumlah apotek dan fasyankes untuk menjalankan rekomendasi tersebut. Termasuk tidak melayani obat sirup.
Dia menyarankan, saat ada anak sakit, harus berkonsultasi terlebih dahulu kepada tenaga kesehatan. Atau peresepannya dari dokter agar lebih jelas. “Saran saya tidak mengonsumsi obat bebas dulu. Sekarang pun, masyarakat bisa dengan mudah mendapat pelayanan kesehatan dengan online maupun langsung,” bebernya usai konferensi pers di ruang rapat Wali Kota Magelang, Kamis (27/10).
Untuk mendukung pelayanan tersebut, faskes harus mempersiapkan tiga hal. Pertama, sumber daya manusia kesehatan (SDMK) harus mempunyai kompetensi minimal screening atau diagnosis tata laksana sesuai dengan masing-masing instansi. Juga memahami alur rujukan, algoritma, diagnosis penyakit, hingga materi edukasi kepada masyarakat. Kemudian, dari sisi logistik. Mulai dari bahan medis habis pakai, persiapan obat-obatan, hingga laboratorium untuk analisis tes fungsi ginjal. Ketiga, terkait space atau ruang. “Seperti fasilitas tempat tidur, kalau memang perlu dirujuk, harus siap alur rujukannya,” imbuhnya.
Dokter Spesialis Anak RSUD Tidar Kota Magelang Woro Triaksiwi Wulansari mengatakan, sejak ditemukan kasus tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah memberikan screening kepada pasien anak. Dari kriterianya, kasus suspek gagal ginjal ini terjadi pada anak usia 0-18 tahun. Dengan gejala oliguria atau produksi urine sedikit dan anuria atau tidak mampu menghasilkan urine yang cukup.
Untuk pasien yang periksa, jelas dia, dokter hanya boleh meresepkan obat sirup yang sudah ada edaran dari Kemenkes dan dinyatakan aman. Bagi anak yang mau berobat, dokter anak akan memberi obat sesuai arahan dari Kemenkes. “Kalau belum ada, diberikan obat racikan dari obat tablet,” tambahnya.
Kepala Subkoordinator Farmamin dan Alkes, Dinkes Kota Magelang Ida Nurjayanti menuturkan, telah membuat surat edaran berkaitan dengan beberapa obat yang masih bisa dipakai untuk pengobatan anak-anak, yakni berjumlah 156 sirup. Selain itu, ada beberapa obat yang mengandung propylene glycol tapi masih dinyatakan aman. (aya/pra/er)

Lainnya