Cuaca Sulit Diprediksi, Minimalisasi Bencana Alam

Cuaca Sulit Diprediksi, Minimalisasi Bencana Alam
TANTANGAN: Pelatihan dan penyegaran personel Polisi Kehutanan (Polhut) KPH Kedu Selatan di Auditorium Polres Purworejo kemarin (6/4). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Kapolres Purworejo AKBP Rizal Marito mencermati kondisi cuaca akhir-akhir ini. Cuaca yang semakin sulit diprediksi harus mendapat perhatian.

Perhatian khusus tersebut sebagai upaya meminimalisasi terjadinya bencana alam yang disebabkan faktor alam atau nonalam. Selain itu, mengantisipasi timbulnya kerugian material maupun korban jiwa akibat bencana.

“Kita juga harus mengambil peran dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang melanda di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia. Pandemi berdampak terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Itu juga menjadi bentuk ancaman yang nyata. Ambil peran untuk memutus mata rantai penyebaran. Berikan contoh menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” jelas Kapolres dalam sambutan yang dibacakan Wakapolres Purworejo Kompol Asep Supriyanto saat menggelar pelatihan dan penyegaran personel polisi kehutanan (polhut) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kedu Selatan di Auditorium Polres Purworejo kemarin (6/4). Tampak hadir Administratur/KKPH Kedu Selatan Komarudin dan Wakil Administratur/KSKPH Kedu Selatan Antoni Alfritsh.

Wakapolres menegaskan, dilihat secara geografis terungkap topografi 70 persen wilayah Kedu Selatan berupa dataran tinggi atau pegunungan dengan karakter tanah yang berbeda-beda. Vegetasi tanaman hutan didominasi jenis pinus yang saat musim penghujan rentan longsor dan saat kemarau rentan terjadi kebakaran hutan.

“Dengan pelatihan dan penyegaran ini harapannya bisa meningkatkan kerja sama serta memberikan gambaran cara bertindak ketika terjadi bencana alam termasuk illegal logging serta tindak pidana lain yang terjadi di lingkungan hutan,” tegasnya.

Komarudin mengungkapkan, polhut sebagai kepolisian khusus yang dibentuk Polri atau menjadi binaan Polri memiliki tugas pokok dan fungsi tertentu. Polhut merupakan pejabat dalam lingkup instansi kehutanan pusat maupun daerah.

“Tupoksi kami menyelenggarakan dan atau melaksanakan usaha perlindungan hutan. Sesuai undang-undang, kami diberikan wewenang khusus di bidang kehutanan dan perlindungan hayati dan ekosistem dalam satu kesatuan komando,” ungkapnya.

Dijelaskan, ada faktor eksternal dan internal atau faktor alam saat bertugas di lapangan. KPH Kedu Selatan harus mengelola lahan seluas 44 ribu hektare.

”Tidak hanya menjaga hutan. Tetapi, juga menjaga kelestarian lingkungan dan perlindungan wilayah sekitarnya. Saat musim penghujan gangguan yang dihadapi yakni banjir dan longsor. Musim kemarau kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

Menurutnya, kebakaran hutan mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Polhut selalu diminta siap siaga setiap pergantian musim untuk mencegah dan mengendalikan bahaya kebakaran hutan.

Sebab, tandasnya, kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem. Kebakaran hutan juga akan berdampak secara lokal, nasional, bahkan global.

“Kebakaran hutan identik dengan pencemaran udara, dan jika itu terjadi akan menjadi sorotan dari semua negara,” jelasnya

Menurutnya, pelatihan kompetensi dan penyegaran sangat penting bagi personel Polhut KPH Kedu Selatan agar lebih hapal dan paham tentang gangguan keamanan hutan. Sebab, kawasan hutan tidak dipagar, terbuka, bebas, dan luas serta siapa saja bisa mengakses hutan. (tom/amd)

Lainnya