YAKKUM Dampingi Lima Puluh Desa

YAKKUM Dampingi Lima Puluh Desa
JALAN KEBUDAYAAN: Pengurus Pusat Rehabilitasi YAKKUM saat meluncurkan Buku Saku Panduan Fasilitas Desa Inklusi di Pendapa Kabupaten Purworejo kemarin (7/4). (Hendri utomo/radar purworejo)

RADAR PURWOREJO – Pusat Rehabilitasi YAKKUM mendampingi lima puluh desa di Kabupaten Purworejo. Pendampingan dilakukan agar pemerintah desa lebih bisa mengikutsertakan warga disabilitas dalam rencana pembangunan desa.

”Sesuai tujuan awal, kami membangun masyarakat inklusif melalui layanan yang berkualitas, terjangkau, dan terpadu,” ucap Program Manager Pusat Rehabilitasi YAKKUM Jaimun dalam peluncuran Buku Saku Panduan Fasilitas

Desa Inklusi di Pendapa Kabupaten Purworejo kemarin (7/4).
Buku tersebut ditulis oleh Tri Wahyuni Suci Wulandari. Sedangkan YAKKUM merupakan lembaga swadaya masyarakat yang getol membantu penyandang disabilitas dalam memenuhi hak-haknya ini tengah menjalankan Program Desa Inklusif yang didukung Light For The World sejak 2019.

Dijelaskan Jaimun, pihaknya telah melakukan perjuangan panjang untuk mewujudkan wilayah inklusif terhadap semua orang. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pedesaan dan Daerah Tertinggal menyambut baik langkah penerbitan buku Panduan Fasilitasi Desa Inklusif pada 2019. Buku ini bisa menjadi acuan pemerintah daerah maupun pegiat pembangunan desa.

Menurutnya, pada dasarnya fasilitasi desa inklusif bersifat lintas pemangku kepentingan. Panduan fasilitasi desa inklusif memuat prosedur kerja yang senantiasa bersifat sinergistik lintas pemangku kepentingan sekaligus berfokus pada upaya menumbuhkan dalam diri warga desa gagasan yang inovatif menuju terwujudnya desa yang kuat, maju, mandiri, dan demokratis.

“Di Kabupaten Purworejo, kami sudah menjalin kerja sama sejak tahun 2014 dengan pemda dalam mendorong pemberdayaan ekonomi bagi disabilitas. Membentuk organisasi penyandang disabilitas di sepuluh kecamatan sebagai motor penggerak advokasi akses layanan disabilitas dengan muara mewujudkan Purworejo yang lebih inklusif bagi kaum difabel,” jelasnya.

Selain desa inklusif, sambung Jaimun, YAKKUM juga memberikan program untuk membuat teknologi tepat guna bagi semua orang di desa lewat program AGRILAB. “Salah satu contohnya adalah penyiraman jamur otomatis di Kecamatan Purworejo, yang sangat membantu bagi disabilitas untuk memudahkan pekerjaan mereka dalam melakukan perawatan jamur,” ucapnya.

Menurutnya, buku panduan bisa digunakan untuk membangun kapasitas disabilitas dan masyarakat desa dalam menyediakan ruang partisipatif bagi kaum disabilitas. Ketika desa memiliki ruang partisipatif bagi difabel maka mereka akan mampu meningkatkan tingkat partisipasi sosial yang nantinya mampu mendukung pembangunan di daerah.

“Kami berharap buku ini bisa menjadi referensi bagi desa untuk membangun desa yang lebih inklusif, tidak hanya di Purworejo, namun di wilayah-wilayah lain di Indonesia,” ujarnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Purworejo Agus Ari Setiyadi menyatakan, langkah YAKKUM sangat luar biasa dan tentunya sangat bermanfaat bagi Kabupaten Purworejo. Menurutnya, semua komponen yang ada di masyarakat harus diikutsertakan dalam proses pembangunan mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

“Pusat Rehabilitasi YAKKUM telah berupaya melangkah ke arah itu. Maka, saya mengucapkan terima kasih kepada YAKKUM yang sudah berniat baik dalam mendampingi warga rentan di Purworejo,” ucapnya.

Ditegaskan, suksesnya program pembangunan di Kabupaten Purworejo butuh kontribusi semua elemen masyarakat seperti yang telah dilakukan YAKKUM. Pemerintah tidak mungkin bisa jalan sendiri. Pemerintah tetap membutuhkan unsur-unsur lain dalam pembangunan daerah.

“Dalam proses pembuatan buku itu, saya juga sempat diminta masukannya. Buku yang sangat menarik dan bermanfaat. Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi panduan untuk memberdayakan semua disabilitas di seluruh desa di Kabupaten Purworejo,” tegasnya.

Menurutnya, YAKKUM kini sudah mendampingi lima desa di Kabupaten Purworejo. Semuanya diarahkan menuju desa yang lebih inklusif terhadap semua warganya.

Agus berharap seluruh disabilitas di Kabupaten Purworejo bisa lebih mandiri, meningkat keterampilannta, dan tidak ketergantungan dengan orang lain. Mereka harus bisa berdaya dan menunjukkan kemampuannya. “Semoga desa-desa lain bisa mengikuti jejak lima puluh desa yang telah mendapat pendampingan YAKKUM,” ujarnya.

Tri Wahyuni Suci Wulandari selaku penulis buku, menyebutkan, ada tiga jalan dalam memenuhi indikator desa inklusi. Salah satunya adalah jalan kebudayaan. Yakni, upaya penguatan nilai inklusi sosial sebagai cara pandang dan perilaku warga desa. Misalnya, gotong royong dalam membuat bangunan publik di desa lebih ramah bagi disabilitas.

Buku ini juga membahas mengenai kelembagaan desa yang inklusif. Di mana, seharusnya disabilitas bisa menjadi kepala desa, perangkat desa, kepala dusun, maupun pemangku jabatan lain.

“Di Purworejo, alhamdulillah ada satu contoh bagus di mana salah satu kepala desa adalah disabilitas dan sudah menjabat dua periode. Disabilitas sebenarnya bisa diangkat lewat pemberdayaan. Sebab, program desa bisa didanai oleh APBDes,” ucapnya. (tom/amd)

Lainnya