Omzet Jambu Kristal Tembus Rp 600 Juta

Omzet Jambu Kristal Tembus Rp 600 Juta
RUJUKAN: Rombongan Pemerintah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, memetik jambu kristal tanpa biji di Desa Munggangsari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, kemarin (9/4). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Perputaran uang dalam budi daya jambu kristal tanpa biji di ke Desa Munggangsari, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, terbilang tinggi. Omzet dari kegiatan yang dikelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Munggangsari ini mencapai Rp 600 juta setiap bulan.

“Itu jambu saja. Belum produk turunan jambu kristal dan produk-produk UMKM lainnya yang terpajang di showroom kami. Jika dihitung satu bulan, perputaran uang kami sudah bisa mencapai Rp 600 juta khusus untuk komoditas jambu kristal saja,” ujar Kepala Desa Munggangsari Pujiyanto kepada rombongan Pemerintah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang melakukan studi banding ke Desa Munggangsari kemarin (9/4). Mereka diterima di Rest Area Daendels.

Rombongan Pemkab Langkat dipimpin Kepala Bidang Pemberdayaan Kelembagaan Desa Kabupaten Langkat Kristina. Ada pula Kepala Seksi Kelembagaan Desa dan Lembaga Adat Kabupaten Langkat Amsalta Ginting.
Pujiyanto mengungkapkan, sebetulnya Pemdes Munggangsari merasa masih banyak kekurangan apabila dijadikan rujukan untuk pengembangan bumdes. Sebab, apa yang sudah dijalankan hanya bermodalkan semangat kebersamaan serta pendekatan yang baik dengan masyarakat.

“Kami ada kebersamaan dengan bankdes dan bumdes. Masyarakat menjadi kuncinya di situ,” ungkapnya.

Menurutnya, produksi jambu kristal sudah lumayan baik. Produksi mencapai 3 sampai 4 ton sehari. Semua jambu kristal mampu terjual ke luar daerah dan dijual langsung di Desa Munggangsari.

Kalkulasi perputaran uang mencapai Rp 21 juta per hari. Ini didasarkan harga jambu kristal Rp 7 ribu per kilogram.

Desa Munggangsari sedang menjadi magnet bagi daerah lain yang ingin mengembangkan potensi desa melalui bumdes. Bahkan, kini Desa Munggangsari sudah memiliki rest area sekaligus showroom untuk memajang jambu kristal dan produk-produk UMKM dari 32 desa di Kecamatan Grabag.

Rombongan Pemkab Langkat yang didominasi anggota PKK Kabupaten Langkat berkesempatan memetik langsung jambu kristal. “Kami studi banding sekaligus belajar ke Desa Munggangsari,” ucap Kristina.

Pemkab Langkat datang menimba ilmu pengelolaan BUMDes Munggangsari. Bumdes ini menilai sukses mengangkat potensi jambu kristal tanpa biji.

Kristina menjelaskan, Pemkab Langkat mengetahui Desa Munggangsari memiliki potensi jambu kristal setelah beberapa tahun lalu mereka melakukan kunjungan ke Kabupaten Purworejo. Kala itu mereka ingin tahu tentang program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyaraka (Pamsimas) dan bumdes di Desa Nglaris.

“Setelah itu, kami tetap intensif berkomunikasi dengan Pemkab Purworejo. Ternyata selain Pamsimas, desa-desa di Purworejo juga mampu memanejemen kelembagaan dengan PKK. Salah satunya Munggangsari ini,” jelasnya.

Menurutnya, di Kabupaten Langkat sudah ada sembilan desa percontohan. Namun, sejauh ini tidak pernah menang dalam lomba pengelolaan administrasi baik tingkat kabupaten, provinsi, atau nasional. “Nah, siapa tahu setelah kami belajar ke sini, ada ilmu dapat kami bawa ke Langkat untuk mengakat potensi di wilayah kami,” ucapnya.

Amsalta Ginting menambahkan, Desa Munggangsari sudah maju. Terutama dalam hal pengelolaan jambu kristal.

“Tadi saya sempat ngobrol dengan Pak Kades dalam sehari bisa empat ton jambu kristal terjual dengan total lahan sekitar 400 hektare. Sukses Munggangsari memotivasi kami. Kami ingin seperti di Purworejo, setiap desa ada produk unggulan,” katanya.

Menurutnya, Kabupaten Langkat memiliki topografi wilayah yang hampir sama dengan Desa Munggangsari. Ada lahan pantai luas yang saat ini didominasi kelapa sawit.

Setelah kunjungan ke Desa Munggangsari, dia ingin membawa ilmu untuk dibagikan ke masyarakat Kabupaten Langkat. “Nanti desa yang tidak ada kebun sawit akan kami coba buat terobosan. Tentunya seperti Munggangsari, menggunaklan alokasi dana desa yang ada untuk mengangkat potensi unggulan yang khas,” ujarnya.

Ditegaskan, Munggangsari terlihat sangat tertib dan rapi dalam memenejemen bumdes. Struktur dari pemerintah desa dan masyarakat bisa rukun. ”Sebagai masyarakat pesisir pantai, kami ingin mencontoh Munggangsari, kendati akses jalannya jauh jika dibanding di Langkat. Permaslahan kami lebih kompleks. Kami tetap optimistis. Kami ingin bisa seperti Munggangsari. Minimal bisa mendekati jika tidak bisa menyamai,” tegasnya. (tom/amd)

Lainnya