Target Selesai Akhir 2023

Target Selesai Akhir 2023
(GRAFIS: ERWAN TRICAHYO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, terus berlangsung. Proses pembangunan bendungan tertinggi di Indonesia dan tertinggi kedua di Asia Tenggara ini ditarget selesai akhir 2023 mendatang.

Pembangunan Bendungan Bener sampai saat ini masih menjadi sorotan. Sejak tahun 2018, proses pembebasan lahan belum selesai. Khususnya, untuk material quarry penyusun bendungan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bener Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) M. Yushar Yahya A. mengatakan, saat ini progres pembangunan secara total sudah mencapai 10,5 persen dari rencana sekitar 9,8 persen. Capaian tersebut merupakan sebuah deviasi positif.

Ada empat paket pekerjaan yang berjalan sesuai jadwal. Meskipun, baru beberapa titik yang sudah dilakukan pekerjaan fisik atau konstruksi.

Pembangunan Bendungan Bener terbagi menjadi empat paket pekerjaan. Paket pertama yakni membuat terowongan pengelak (diversion tunnel). Pengerjaan terowongan untuk mengalihkan air dari Sungai Bogowonto untuk proses pembangunan timbunan ini sudah berjalan sekitar 13 persen. Paket kedua berupa pembangunan saluran pelimpah (spillway). Pembangunan sudah berjalan 27 persen.

Paket ketiga dan keempat yakni pengambilan material quarry. ”Sedangkan paket ketiga dan keempat masih 0,05 persen. Sebab, memang belum mulai pekerjaan, selain membuat akses jalan dari bendungan ke penambangan material quarry di Desa Wadas,” ungkap Yushar kemarin (25/5).

Sesuai dengan kontrak, tegas Yushar, proyek pembangunan Bendungan Bener ditargetkan selesai 2023 akhir. Salah satu sorotan yang cukup tajam yakni soal pembebasan lahan di Desa Wadas. Menurutnya, warga Desa Wadas yang berada di area tambang quarry bisa melihat dan menjadikan Desa Guntur sebagai patokan.

“Yang pasti, proyek nasional ini tentu memprioritaskan kesejahteraan masyarakat. Jadi, di area tambang quarry (Desa Wadas) sampai saat ini memang masih terkendala ada penolakan. Namun, dengan pendekatan persuasif, kami optimistis tim bisa masuk melakukan pengukuran dan pembebasan tanahnya,” jelasnya.

Menurutnya, pembangunan Bendungan Bener fokus untuk pembangunan fisik atau konstruksi bangunan. Namun, tim juga tetap fokus pada pembebasan lahan.

“Kami akui permasalahan quarry Wadas cukup rumit dan menjadi sorotan. Terlepas dari konflik yang terjadi di lapangan, masyarakat sangat membutuhkan informasi yang benar dan berimbang.” paparnya.

Yushar menilai permasalahan pro dan kontra sebetulnya hal yang wajar. ”Dan ini bukan menjadi beban bagi kami. Justru, menambah semangat. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga sudah memberi dukungan. Kami optimistis quarry bisa selesai,” tugasnya.

Ditambahkan, proses pengerjaan konstruksi memang harus bertahap. Artinya, pengerjaan paket ketiga dan keempat atau pengerjaan timbunan atau tubuh bendung juga harus menunggu pengerjaan terowongan pengelak dan saluran pelimpah selesai.

Sementara itu, pengerjaan terowongan pengelak direncanakan selesai dalam waktu 1,5 tahun atau rampung tahun 2022 mendatang. Sedangkan saluran pelimpah sesuai kontrak selesai tahun 2023.

“Tahap paling awal memang membuat terowongan pengelak untuk mengalihkan air dari Sungai Bogowonto untuk proses pembangunan timbunan. Setelah itu, baru pengerjaan timbunan atau tubuh bendung,” jelasnya.

Yushar menjelaskan, target pengambilan material quarry yang dilakukan pada 2022 merupakan pekerjaan paket ketiga dan keempat. ”Jadi, sudah berjalan sesuai rencana. Sementara ini, pekerjaan di paket ketiga dan keempat sementara menangani akses jalan baru dari bendungan ke pengambilan material quarry,” ucapnya.

PPK Pengadaan Tanah Bendungan Hery Prasetyo menambahkan, pembebasan tanah sudah berjalan 42 persen. Lahan yang dibebaskan meliputi Desa Guntur, Desa Limbangan, dan Desa Karangsari.

“Jumlah lahan yang dibebaskan ada 5.100 bidang dan yang sudah terbebas 2.000 bidang,” terangnya.

Sementara itu, kebutuhan material yang diambil dari Desa Wadas masih berproses. ”Penambangan material di Wadas target dimulai pada 2022 akhir. Kami masih optimistis Oktober 2021 untuk Wadas selesai dan terealisasi untuk pengambilan materialnya,” ucapnya. (tom/amd)

Anggaran Rp 3,8 T, Material dari Wadas

Proyek pembangunan Bendungan Bener menelan anggaran Rp 3,8 triliun. Biaya tersebut untuk pembangunan fisik atau konstruksi. Biaya itu tidak termasuk uang ganti rugi atau pembebasan lahan.

Bendungan ini memiliki tinggi 169 meter. Lebar tubuh bendung bagian atas 500 meter dan bagian bawah 150 meter.

Elevasi atau ketinggian debit air waduk ini menjadi 359 meter di atas permukaan laut (mdpl). Material yang dibutuhkan sekitar 8,5 juta meter kubik dan diambilkan dari Desa Wadas.

Pengambilan material penyusun bendungan diambilkan dari Desa Wadas mengingat sesuai dengan kajian ilmiah dan izin penetapan lokasi (IPL). Material diangkut dari Desa Wadas karena masih dalam bentuk kotor atau campuran. Kemungkinan bisa mencapai 15 juta meter kubik.

“Kemungkinan untuk mengambil material dari luar Wadas cukup minim. Sebab, tidak memenuhi secara volume. Dan secara teknis, salah satunya kekerasan batunya, juga baik bagus adalah dari Wadas,” ungkap Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Bener Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) M. Yushar Yahya A.

Jika material dipaksakan dari luar Desa Wadas, paparnya, risikonya dinilai lebih besar. ”Sekitar tahun 2017 sudah dilakukan kajian dan studi lapangan terkait kualitas material Wadas yang paling masuk,” terangnya.

Yushar mengungkapkan, Bendungan Bener memiliki empat fungsi utama. Pertama, untuk irigasi 15 ribu hektare sawah di wilayah Kabupaten Purworejo. Kedua, sebagai air baku atau pasokan air minum dengan kapasitas sebesar 1,60 meter kubik per detik untuk Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Kulonprogo.

Fungsi ketiga adalah mengurangi debit banjir sebesar 210 meter kubik per detik. Keempat, menghasilkan listrik sebesar 6 mega watt (MW) untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

“Bendungan yang berjarak sekitar 8,5 kilometer dari pusat kota Purworejo ini juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata,” ungkapnya. (tom/amd)

Lainnya