Dimaafkan dengan Syarat Cabut IPL

Dimaafkan dengan Syarat Cabut IPL
DITERIMA: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat menemui warga penolak Quarry di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo, kemarin. (elang kharisma dewangga/Radar Jogja)

RADAR PURWOREJO – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kembali mengunjungi Desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo, kemarin (13/2). Kunjungan kali kedua ini menemui warga penolak penambangan batuan andesit (quarry) penyusun Bendungan Bener.

Pantauan Radar Purworejo, Ganjar Pranowo mendapat sambutan yang hangat dari ratusan warga penolak quarry di Masjid Nurul Huda Desa Wadas. Orang nomor satu di Jawa Tengah itu datang mengenakan setelan kemeja warna krem, celana hitam dan berpeci.Ganjar disuguhi beraneka ragam hasil bumi Desa Wadas. Salah satunya buah durian.

Ya, Desa Wadas memang terkenal dengan buah duriannya, selain itu juga banyak macam tanaman seperti kopi, umbi-umbian yang tumbuh subur. Selain ditunjukkan buah durian, ia juga disambut dengan nyanyian lagu perlawanan warga penolak quarry sebelum masuk ke serambi masjid memulai sesi dialog.

Menurut Ganjar, masukan dan keterangan warga secara langsung akan dijadikan evaluasi teknis dan metode pendekatan kepada warga Wadas ke depannya. Ada tiga hal yang harus dia kerjakan cepat, evaluasi teknis dan metode pendekatan. “Kemarin saya sudah ke sini tetapi kayaknya kurang, makanya saya datang kesini lagi hari ini,” ucap Ganjar usai berdialog.

Ganjar mengaku lega bisa mendengar langsung kesaksian warga yang sempat mengalami langsung peristiwa kericuhan di Wadas. Ia juga mengakui bahwa warga masyarakat Wadas cukup baik dan religius. “Terima kasih, kawan-kawan yang ada di sini sangat baik, tadi juga sudah menyampaikan cerita yang terjadi 8 Februari , ini yang perlu saya dengarkan,” ucapnya.

Sambutan hangat itu bahkan membuat Gnjar berencana ingin menginap di Desa Wadas lebih lama untuk tahu lebih dalam fakta Wadas. Warga juga dengan senang hati memperbolehkan. “Masyarakat juga bagus, tadi saya tanya boleh nginep di sini atau tidak dijawab rame-rame boleh gitu,” ujarnya.

Disinggung peristiwa kericuhan di Desa Wadas beberapa waktu lalu, Ganjar bersikap bahwa dirinya bertanggung jawab dan meminta maaf atas kejadian tersebut. Menurutnya, yang terpenting saat ini yakni warga bisa kembali hidup rukun. Masalah teknis seperti pencabutan Izin Penetapan Lokasi (Penlok) dan masalah teknis lainnya bisa dibicarakan kemudian.

Menurutnya, kerukunan terjaga, anak-anak tidak boleh \ ada yang dibully di sekolahan karena persoalan orang tuanya. Sehingga semua akan berjalan dengan baik. Untuk masalah teknis nanti diserahkan kepada ahlinya. “Terima kasih sekali saya sudah disambut dengan baik,” ungkapnya.

Salah satu warga, Mukti menegaskan, secara umum warga Wadas menyambut baik dan membuka pintu maaf kepada Ganjar Pranowo. Kendati demikian, warga penolak quarry tetap menyatakan sikap penolakan terhadap rencana penambangan di Desa Wadas. “Sebagai warga kami menghormati betul niat dan itikad baik bapak gubernur, kami maafkan dengan satu syarat cabut Izin Penetapan Lokasi (IPL),” tegasnya. (tom/din)

Lainnya