Stabilkan Harga, Pemkab Gelar Operasi Pasar

Stabilkan Harga, Pemkab Gelar Operasi Pasar
STRATEGI: Pemkab Purworejo melalui Dinas KUKMP saat melakukan operasi pasar minyak goreng di pasar tradisional dan lokasi UMKM, kemarin.  (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (KUKMP) Kabupaten Purworejo menggelar operasi pasar, kemarin (13/3). Puluhan ribu liter minyak goreng ditujukan kepada masyarakat di setiap kecamatan. Langkah itu dilakukan untuk menstabilkan harga minyak goreng yang masih tinggi jauh di atas rata-rata. Operasi dipusatkan di sejumlah pasar-pasar tradisional di setiap kecamatan se Kabupaten Purworejo. “Total hingga hari ini sudah 89.440 liter minyak goreng kami distribusikan,” ucap Kepala Dinas KUKMP Gatot Suprapto SH.

Dijelaskan, ada tiga jenis yakni minyak goreng yang didistribusikan, yakni   minyak goreng kemasan premium, sederhana, dan curah. Minyak goreng kemasan premium sudah terdistribusikan 76.940 liter, kemasan sederhana 6.000 liter, dan minyak goreng curah 6.500 liter.

Sejumlah pasar tradisional yang sudah dilakukan operasi di antaranya Pasar Purworejo, Pasar Baledono dan Pasar Kutoarjo, Kecamatan Gebang, Bayan, Loano, Bener, Butuh, Kemiri, Purwodadi, dan Grabag. Operasi perasi pasar ini sebetulnya sudah dilaksanakan sejak 21 Februari lalu dan akan  terus dilakukan  sesuai arahan dari provinsi. “Senin (13/3) kami gelar di Kecamatan Bagelen, Selasa (14/3) di Kecamatan Ngombol, masing masing 1.200 liter,” jelasnya.

Ditambahkan, operasi pasar rencana tidak hanya dilaksanakan di pasar tradisional saja. Namun di beberapa titik yang memang menjadi lokasi kelangkaan minyak. Terlebih tidak hanya masyarakat umum yang terdampak, tetapi juga UMKM. “Penjual gorengan, pecel lele sangat tergantung minyak goreng, kami masih data di setiap kecamatan dan minyak goreng akan kami distributor langsung,” ucapnya.

Menurutnya, pemerintah pusat terus berupaya mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng di daerah, termasuk di Purworejo. “Kami tidak juga kerjasama dengan distributor, Disperindag Provinsi  dan Kemendag dalam pelaksanaan operasi pasar minyak  goreng ini,” ujarnya.

Safaraz Budi Pijar, warga Pangenrejo mengungkapkan, dia memiliki usaha katering dan roti. Minyak menjadi salah satu bahan baku utama dalam proses pembuatan makanan yang dalam bulan ini pemesannya cukup banyak. Dia bahkan sempat membeli di toko modern berjejaring saat minyak hilang dari peredaran. Menurutnya susah sekali mencari minyak goreng.  Dia tetap membelinya walaupun harganya  Rp 21 ribu per liter.”Lha gimana mau bikin pesanan kalau tidak ada minyak goreng,” keluhnya. (tom/din)

Lainnya