Banjir di Kabupaten Cilacap Mulai Surut

Banjir di Kabupaten Cilacap Mulai Surut
EVAKUASI: Petugas BPBD Cilacap dan sejumlah relawan saat mengevakuasi masyarakat yang terdampak banjir. Namun saat ini, kondisi banjir sudah mulai surut dan pengungsi sudah dipulangkan. (DOKUMENTASI BPBD CILACAP)

RADAR PURWOREJO – Banjir yang menggenangi 15 kecamatan di Kabupaten Cilacap, berangsur surut. Seperti di Kecamatan Maos, Gandrungamangu, Kedungreja, Kawunganten, Jeruklegi, Kesugihan, Majenang, dan Sampang.

Saat ini, banjir dengan ketinggian rata-rata 30-50 sentimeter berada di Desa Sidareja; Kecamatan Kroya di Desa Mujurlor, Gentasari, dan Mujur, Kedawung, dan Sikampuh. Sementara di Kecamatan Gandrungamangu berada di Desa Cisumur; Kecamatan Bantarsari di Desa Rawajaya, dan Binangun. Kecamatan Kampunglaut di Desa Panikel; Kecamatan Adipala di Desa Adiraja; dan di Kecamatan Patimuan.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng Bergas C Penanggungan menjelaskan, dampak banjir Cilacap saat ini telah tertangani. Sebab, masyarakat telah dievakuasi ke titik aman. Utamanya kelompok rentan, ibu, dan anak telah evakuasi lebih dulu. Sedangkan laki-laki dewasa, diminta ikut menjaga lingkungan masing-masing. “Alhamdulillah di Cilacap sudah tertangani. Termasuk logistiknya untuk pengungsi dari dinas sosial sudah didorong untuk disampaikan ke titik pengungsian,” kata Bergas dihubungi melalui sambungan telepon kemarin (11/10).

Meski demikian, Bergas menyebut, ada masyarakat lebih memilih bertahan di rumah. Karena dianggap ini sesuatu yang biasa. Meski demikian, BPBD terus melakukan pendampingan dalam penanganan bencana ini.

Sedangkan bagi masyarakat yang mengungsi di masjid dan gedung sekolah, mereka akan pulang ke rumah saat banjir surut. Namun jika banjir belum surut hingga malam hari, pengungsi akan kembali ke tempat pengungsian. “Sudah ada dapur umum yang disediakan pemerintah setempat, warga setempat membantu untuk masak. Termasuk relawan juga membantu,” ujarnya.

Penyebab banjir, lanjut Bergas, disebabkan adanya hujan intensitas tinggi sejak 7-8 Oktober mulai pukul 13.00. Kondisi ini diperparah dengan pendangkalan sungai di Kabupaten Cilacap, penebangan lahan Perhutani mengakibatkan daya serap tanah kurang. Sehingga perubahan tata guna lahan di hulu dan perubahan tata ruang di hilir.

Menurut Bergas, BPBD Jateng juga terus berkoordinasi dengan BPBD daerah serta memberikan dukungan penuh dalam melakukan aksi penanganan. Termasuk juga, ikut serta menyebarkan informasi BMKG sebagai bentuk antisipasi bila terjadi bencana. “Saat ini Jateng memasuki musim hujan, yang mana puncaknya di Januari-Februari. Maka, pada saat masa peralihan ini dari kemarau ke musim hujan biasanya ada cuaca ekstrem. Termasuk peralihan dari musim hujan ke kemarau juga sama. Pasti akan ada cuaca ekstrem,” jelasnya. (*/eno)

Pengungsi Pulang, Diminta Tetap Siaga

BPBD Cilacap melaporkan, pengungsi banjir sudah mulai pulang dan membersihan tempat tinggal. Meski demikian, kewaspadaan mutlak diperlukan, mengingat cuaca ekstrem masih akan berlangsung beberapa hari ke depan.

Analis Kebencanaan BPBD Cilacap Gatot Arief Widodo mengatakan, ada 42 desa di 15 kecamatan yang terdampak banjir. Pengungsi paling banyak terdapat di Desa Kalijeruk, Kawunganten dengan 2.500 pengungsi. Sementara dii Kecamatan Sidareja, ada 72 jiwa yang mengungsi ke Koramil Sidareja. Selain itu, ada pula pengungsian di Kecamatan Kesugihan dan Kecamatan Kroya. “Secara umum, sudah kembali ke rumah masing-masing, dan membersihkan rumah,” ujarnya melalui sambungan telepon kemarin (11/10).
Meskipun kondisi hujan berkurang dan banjir sudah mulai surut, Gatot mengimbau, warga masih perlu siaga. Mengingat prediksi BMKG, cuaca ekstrem yang melanda Pulau Jawa masih akan berlangsung hingga 15 Oktober.

Oleh karena itu, dia juga meminta dinas terkait ikut menyiagakan personel termasuk alat berat. KArena penanganan bencana tidak bisa dilakukan oleh satu instansi semata. “Kepala BMKG Dwikorita menyampaikan pentingnya percepatan penyampaian informasi ke masyarakat. Oleh karena itu, kita gunakan WAG (WA group) untuk menyampaikan informasi ke masyarakat, terkait peringatan dini, peringatan cuaca ekstrem hujan lebat kita sampaikan satu jam sebelumnya,” bebernya.

Gatot menambahkan warga diminta ikut melakukan asessment mandiri terhadap kondisi cuaca. “Untuk warga secara umum disampaikan untuk pengamanan diri dan keluarga, cermati informasi cuaca, apabila terjadi hujan ekstrem bisa kembali tempat evakuasi yang telah ditentukan desa secara mandiri,” tambah Gatot.

Selain banjir, bencana longsor juga menimpa warga Desa Ciwuni, Kesugihan. Gatot menyebut, akibat kejadian tersebut warga harus mengungsi ke rumah famili, karena kerusakan yang cukup parah. Namun demikian, longsor telah ditangani secara gotong royong oleh masyarakat dan unsur pemerintah terkait.

“Saat ini yang dibutuhkan oleh warga terdampak banjir adalah sarana kesehatan lingkungan (Sarkesling) seperti sapu, pel dan disinfektan, khususnya di Desa Kalijeruk karena terendam cukup lama perlu pembersihan, juga memerlukan sabun cuci,” bebernya.

Terkait kerugian materiil, Gatot mengaku belum bisa merinci. Mengingat, penghitungan kerugian bisa dilakukan ketika perincian dilakukan sampai pasca bencana. (*/eno)

Lainnya