Inovasi Strategi Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat

Inovasi Strategi Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat
ANTUSIAS: Sosialisasi dan Focus group discussion (FGD) di SD Negeri Brosot. (ISTIMEWA)

RADAR JOGJA – Salah satu satuan pendidikan dasar di Kapanewon Galur, Kulonprogo melakukan penguatan pendidikan karakter (PPK) berbasis masyarakat. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah dengan membangun jejaring dan komunikasi dengan lingkungan luar satuan pendidikan dasar.

Dosen Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Sumaryati menjelaskan, langkah membangun jejaring dan komunikasi ditunjukkan dengan mengikuti sosialisasi dari kementrian. Mengundang komite sekolah dan perwakilan kelas, serta melibatkan unit, intansi, kelompok masyarakat, industri di sekitar sekolah.

Langkah lain yang juga telah dilakukan untuk PPK berbasis masyarakat adalah mendesain program secara bersama-sama. Tidak hanya melibatkan masyarakat di sekolah, namun juga perwakilan orang tua siswa. “Implementasi program ditunjukkan dengan adanya kunjungan ke berbagai mitra di luar kelas,” ungkap Sumaryati.

Jika langkah tersebut sudah dilakukan, lanjutnya, PPK berbasis masyarakat akan masuk ke langkah evaluasi program. Dengan melakukan evaluasi diri. “Selanjutnya hasil evaluasi diri akan menentukan langkah keberlanjutan program,” bebernya.

Meski demikian, masih ada langkah yang belum dilakukan oleh satuan pendidikan dasar tersebut. Yaitu identifikasi dan analisis kebutuhan sekolah, dan identifikasi partisipasi masyarakat. Hal ini karena keterbatasan sarana prasarana, manajemen waktu, keterbatasan tutor ahli, dan lokasi sekolah yang jauh.

Selain itu, beberapa strategi dalam memperkuat peranan orang tua dalam PPKn belum dilakukan. Dengan pelibatan orang tua dalam penentuan kebijakan sekolah, membangun komunikasi aktif, kegiatan ekstrakurikuler, proses pembelajaran, parenting, dan pertemuan rutin setiap dua minggu sekali.

Menurutnya, selama pembelajaran secara daring, komunikasi dengan orang tua dilakukan melalui grup WhatsApp. Serta dengan menerbitkan buku kegiatan harian siswa. Namun, terdapat beberapa kendala yang dihadapi sekolah dalam memperkuat relasi dengan orang tua. “Yaitu masih terdapat orang tua yang beranggapan pendidikan karakter adalah tugas sekolah saja,” kata Sumaryati.

Sementara itu, Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UAD Lisa Retnasari menambahkan, bahkan beberapa orang tua kurang antusias dan lambat dalam merespon kebijakan PPK. Adanya keragaman karakter orang tua, dinilai mempengaruhi pengambilan kebijakan. Dikarenakan banyak orang tua yang tidak bisa mengikuti zoom dengan kendala pada sinyal, kuota, dan jenis handphone. Serta kurangnya tingkat pemahaman orang tua dalam penggunaan media digital.

Kesibukan orang tua, kata Lisa, juga berpengaruh cara mendidik dan pengawasan anak dalam pembiasaan tertentu sesuai karakter yang diharapkan. “Tidak semua orang tua memiliki waktu yang khusus untuk mendukung program sekolah karena latar belakang yang berbeda-beda,” bebernya. (*/eno)

Lainnya