Hobi Menulis Karya-Karya Sastra

Hobi Menulis Karya-Karya Sastra

Radar Purworejo Dunia sastra sangat melekat pada sosok R Iman Ciptadi. Sejak kecil dia telah bersentuhan dengan dunia sastra.Seperti teater dan puisi. Ayahnya penulis naskah lakon di RRI Semarang. Dia pun kerab diajak rekaman.

“Bapak saya naskah lakon di RRI Semarang. Jadi saya sejak maaih anak-anak sering melihat bapak saya malam-malam mengetik, dan sebagainya,” kata pria kelahiran Semarang, 1 September 1971 kepada Radar Purworejo, Selasa (19/1).

Ketika sekolah dasar (SD), dia telah dikenalkan dengan sastra. Pun, diajak ikut rekaman di RRI Semarang oleh ayahnya. “Dikenalkan sastra dan seni, seperti teater, puisi. Kemudian sejak SMP kelas 8 mulai menyukai menulis dan membaca,” ungkap Sekeretaris Dewan Kesenian Purworejo sejak dideklarasikan pertama antara 1998/1999 sampai 2012 itu.

Dikatakan, dia juga sering meminjam buku sastra kepada gurunya. Bahkan, hingga bacaan-bacaan berat dan hobi menceritakan kembali tentang apa yang telah dia baca. “Setelah masuk SMA mulai serius. Awal menulis, naskah sandiwara. Terinsiprasi dari beberapa senior, kemudian karya-karya saya di mainkan untuk drama sekolah. Saya suka main teater juga dan ikut lomba-lomba teater,” ujar pria yang basicnya juga kartunis itu.

Karena menyukai sastra, saat kuliah dia kemudian dia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Muhammadiyah Purworejo kini menjadi Universitas Muhammadiyah Purworejo.

“Kebetulan, saya melatih menulis sekitar 87 atau 88. Walaupun tuntuk kalangan sendiri. Saya kumpulkan, saya ketik pakai mesin tik bapak saya. Karya-karya saya juga sering dimuat di beberapa media seperti di majalah, surat kabar, dan sebagainya,” bebernya.

Sebenarnya, dia juga telah mempunyai antalogi puisi pribadi. Ada sekitar 92 karangan puisi yang dia beri judul Melankolia. Karya-karyanya berisi sejak tahun 90-an hingga 2000-an. “Sampai sekarang masih sering menulis tapi tidak intens, kebanyakan tulisan-tulisan saya saya kolaborasikan dengan trman-teman yang lain,” ungkap aktivis Kopi Sisa (Komunitas Peminat Seni dan Sastra) Purworejo itu.

Meski karya-karyanya paling banyak adalah puisi, namun dia lebih menyukai menulis naskah drama. Dia juga intens ke geguritan.

Dia sangat menikmati semua proses yang dia buat. Semua karyanya bekesan. Yang jelas keasikan menulis itu yang dia nikmati. Bukan ke hasil akhirnya, senang ketika proses itu mulai berjalan. Ketika mengolah kata, memilih diksi, saat berimajinasi, dan sebagainya. “Bagaimana memeras suasana alam, yang saya rasakan dan dituangkan menjadi kata-kata,” jelas Iman yang menyukai penyair angkatan 66′ Piek Ardijanto Soeprijadi itu.

Iman, menyebutkan karya-karya puisinya, pendek. Hanya dua hingga tiga bait. Saat ditanya terkait isi puisinya, dia menjawab random. Dia lebih fokus ke suasana. Misal suasana malam, ketakutan, kesedihan, keindahan, dan seterusnya. “Jadi lebih ke respons saya terhadap suatu peristiwa,” lanjut pria yang juga menyenangi aktivitas outdoor dan pecinta alam itu.

Insipirasi menulis karya, juga spontan. Terkadang saat berkendara, bekerja di kantor, saat mengobrol dengan orang lain, dan sebagainnya. Kadang di jalan terlintas, kemudian berhenti dulu. Dia tulis dulu. Kemudian dilanjutkan di rumah. “Kadang menulis juga di media sosial seperti Facebook, Instagram,” katanya.

Baginya, sastra telah mendarah daging. Karena sejak kecil sudah melihat ayahnya yang sering menulis. Pun, sering melihat proses kreatif ayahnya dan teman-teman sastrawannya. “Sering melihat bapak saya, membaca puisi, berdiskusi sastra,” ucap dia.(din)

JIHAN ARON VAHERA, Purworejo, Radar Purworejo

Lainnya