Novel “Tembang dan Perang” Diangkat Dalam Webinar Nasional

Novel “Tembang dan Perang” Diangkat Dalam Webinar Nasional

Radar Purworejo Setelah sukses meluncurkan novel perdananya berjudul Glonggong, Junaedi Setiyono kembali merilis novel baru berjudul Tembang dan Perang. Seperti apa novel karya  satrawan kelahiran Kebumen 16 Desember 1965 yang juga Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) ini?

Novel Tembang dan Perang karya Junaedi Setiyono berhasil menarik perhatian dunia literasi. Novel yang diterbitkan PT Kanisius ini juga mendapat perhatian dari Dewan Kesenian Purworejo (DKP) dengan menggelar Webinar Nasional bertajuk “Cerita Panji sebagai Sumber Inspirasi yang Tak Pernah Mati”, yang akan dihelat hari ini (15/12).

DKP Purworejo juga mendapat dukungan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Purworejo, Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purworejo, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan UMP. Webinar ini juga menghadirkan pembicara kelas nasional. Ada Prof Dr Ir Wardiman Djojonegoro (Mendikbud RI 1993-1998 dan Promotor Mow Unesco untuk Babad Diponegoro, Arsip-arsip Konferensi Asia-Afrika dan Cerita Panji), Dr Ganjar Harimansyah MHum (Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah), dan Dr Sudibyo MHum (Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM), dan Henri Nurcahyo (Penggiat Literasi Panji) sebagai moderator.

Koordinator acara dan pendaftaran Webinar, Achmad Fajar Chalik mengatakan, Webinar berkonsep daring kali ini dilaksanakan melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan secara langsung (live streaming) di laman YouTube sehingga dapat diikuti masyarakat luas mulai pukul 15.00 -17.00. “Apresiasi dan antusiasme Webinar kali ini cukup tinggi. Sejak pendaftaran dibuka pada akhir November 2020 hingga saat ini tercatat sudah ada sekitar 232 calon peserta. Peserta berasal dari berbagai kalangan dan daerah di Indonesia,” katanya, kemarin (14/12).

Ketua DKP Purworejo Angko Setiyarso Widodo menambahkan, Junaedi Setiyono sejauh ini menjadi penulis yang cukup produktif dan berhasil menelurkan karya-karya monumental dengan latar Purworejo di kancah nasional hingga internasional.

“Novel kali ini menjadi bagian dari upaya nyata pelestarian Cerita Panji sekaligus mendorong generasi muda Indonesia untuk lebih gemar membaca, bangga pada budayanya, dan mencintai karya-karya anak bangsa,” ucapnya.

Dijelaskan, di tengah derasnya arus globalisasi seperti saat ini, ketahanan jati diri suatu kelompok masyarakat tercermin melalui kemampuan melestarikan seni dan budayanya. Termasuk budaya literasi.

Cerita Panji merupakan salah satu cerita asli Indonesia yang telah mendunia. Keberadaanya harus dilestarikan sehingga dapat dinikmati oleh generasi-generasi yang akan datang.

Panji Cycles diakui oleh UNESCO sebagai Memory of the World pada 2017. Cerita Panji telah hidup dan mengakar dalam memori masyarakat Indonesia dengan berbagai cara penyajiannya.

“Ini sebagai upaya untuk membumikannya tetap perlu dilakukan di tengah derasnya budaya asing yang terus menghiasi kehidupan generasi muda Indonesia saat ini,” jelasnya.

Menurutnya, Cerita Panji adalah satu-satunya cerita asli Indonesia yang sudah sejak abad ke-15 terkenal tidak hanya di dalam wilayah Indonesia, tetapi juga di kawasan Asia Tenggara. Novel Tembang dan Perang karya Junaedi Setiyono merupakan karya yang lahir sebagai salah satu upaya untuk melestarikan Cerita Panji.

“Melalui karyanya ini, Junaedi Setiyono mengemas dengan apik dan menyajikan dengan jernih Cerita Panji dengan bahasanya yang sederhana namun bermutu tinggi,” ujarnya.

Diharapkan, Webinar yang dihelat dalam suasana penuh keterbatasan akibat pandemi Covid-19 ini tetap dapat terlaksana dengan maksimal. Apalagi, apresiasi sangat tinggi ditunjukkan oleh berbagai pihak yang telah memberikan dukungan.

“Kepada instansi dan lembaga terkait, kami sampaikan apresiasi yang tinggi. Kepada peserta dari berbagai daerah se-Indonesia, kami ucapkan selamat ber-Webinar. Event ini sekaligus menjadi sarana kita untuk mengeratkan jalinan persatuan,” harapnya.

Junaedi Setiyono mengungkapkan, sebagai seorang penulis sebelumnya dia juga sudah meluncurkan novel perdana berjudul Glonggong pada desarian 2007. Novel Glonggong lebih mengangkat persoalan-persoalan eksistensial manusia yang berpilin dalammasalah kultur, sosial, politik, ekonomi, dan religius.

“Novel Glonggong dulu saya tulis setebal 294 dan mengisahkan sosok Danukusuma kecil yang gemar bermain gonggong pedang-pedangan terbuat dari tangkai daun (pelepah) pepaya yang hingga menyerupai pedang hingga mendapat nama julukan Glonggong,” ungkapnya.

Dalam novel tersebut dikisahkan, sejak kecil, Glonggong sudah dihadapkan pada realitas kehidupan keras. Ayahnya seorang ningrat, meninggal dalam suatu pertempuran melawan kompeni saat dia masih kecil. Ibunya menikah lagi dengan ningrat lain yang hedonis, dan kemudian ibunya meninggal. Glonggong hidup terlunta-lunta sebatang kara.

Dalam perjalanan hidupnya, Glonggong terjebak dalam hiruk-pikuk dan intrik politik Perang Jawa (Java Oorlog) sekitar 1825–1830. Saat dimana masyarakat Jawa terpecah menjadi dua kutub (kutub yang memihak Pangeran Diponegoro melawan kompeni Belanda dan kutub  yang memihak Patih Danureja bersekutu dengan kompeni Belanda,Red). Glonggong kemudian dijebloksan setelah diakan Ki Jayasurata membantu perjuangan Pangeran Diponegoro.

Melalui novel Glonggong, Junaedi memperkenalkan pembaca suasana masa menjelang/hingga Perang Jawa berkobar. Polemik politik dan perseteruan sesama kaum sebagai pengalaman pahit di kala itu dipaparkan dalam novel tersebut. Novel terbarunya yang digelar dalam webinar nasional tentu tak kalah menariknya. (din)

HENDRI UTOMO, Purworejo, Radar Purworejo

Lainnya