Nasi Gugah Khas Gunung Gajah Desa Pandanrejo

Nasi Gugah Khas Gunung Gajah Desa Pandanrejo
EKSPERIMEN: Widiyastuti, salah seorang anggota Tim Kuliner Obwis Gunung Gajah. (JIHAN ARON VAHERA/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – “Yang membuat khas adalah aroma bakarannya, gurih, dan aroma khas daunnya menggugah selera.” Begitu kesan yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Agung Wibowo tentang nasi gugah, nasi dari objek wisata Gunung Gajah.

Setiap daerah memiliki ciri khas berupa makanan atau kuliner. Tak terkecuali salah satu desa kecil di pojok barat Kabupaten Purworejo. Yakni, Desa Pandanrejo di Kecamatan Kaligesing. Ada makanan khas yaitu nasi bakar gugah. Kata gugah merupakan akronim dari Gunung Gajah, sebuah kawasan di Desa Pandanrejo.

“Nasi gugah itu nasi yang dibuat khusus. Adanya di Gunung Gajah,” ujar salah seorang Tim Kuliner Obwis Gunung Gajah Widiyastuti kepada Radar Purworejo Minggu (4/4).

Cara pembuatannya mirip membuat lemper atau lontong. Hanya isiannya yang berbeda. “Dari beras diolah atau dimasak dengan campuran santan dan bumbu rempah yang kemudian diliwet. Setelah itu, dikukus dicampuri daun kemangi dan bawang goreng. Supaya wanginya keluar,” sambung dia.

Nasi yang sudah dimasak lantas dibungkus dengan daun pisang dan diberi isian teri. ”Kalau pernah melihat proses membuat lontong atau lemper itu sama. Bedanya setelah dibungkus itu dibakar, tidak dikukus,” terang dia.

Widiyastuti mengatakan, makanan khas nasi gugah dengan aroma yang unik itu ada sekitar 2019. “Belum lama, baru satu tahunan ada di Gunung Gajah. Awalnya objek wisata Gunung Gajah ini kan belum ada makanan khas. Nah, kami berpikir dan makanan ini diinisiasi oleh tim kuliner obwis Gunung Gajah,” paparnya.

Tim yang menginisasi tersebut melakukan eksperimen. “Dicoba kok berhasil. Kemudian dijadikan makanan khas Gunung Gajah, yaitu nasi gugah. Kata gugah itu akronim dari Gunung Gajah,” katanya.

Hebatnya, Widi menyebutkan, makanan tersebut menyabet juara keempat kategori kuliner favorit di ajang Jambore Pokdarwis 2020. “Keawetannya kayak lontong maksimal dua hari, karena itu kan dari santan, ya. Enak disantap begitu saja, karena di dalamnya sudah ada teri dimasak asam manis. Misal mau didampingi dengan makanan lain, bisa pakai tahu bacem, tempe bacem, itu juga enak,” tandas dia. (han/amd)

Lainnya