Cukup Panggil Hallo, Tak Takut Ancaman Predator

Cukup Panggil Hallo, Tak Takut Ancaman Predator
PRODUKTIF: Iptu Kuat menunjukkan nila dalan kolam bundar di rumahnya di Desa Gesikan, RT 02 RW 02, Kecamatan Kemiri, Kabuaten Purworejo, kemarin (7/4). (HENDRI UTOMO/Radar Purworejo)

RADAR PURWOREJO – Memanfaatkan lahan kosong dan cerdik membidik peluang. Itulah yang dilakukan KBO Satlantas Polres Purworejo Iptu Kuat. Tidak hanya menanam tanaman hias, dia juga sukses mengembangkan budidaya ikan nila dalam kolam bundar.

SOROT matanya selalu penuh optimisme. Selalu aktif bergerak. Apa saja dikerjakan. Itulah gambaran sosok KBO Satlantas Polres Purworejo Iptu Kuat. Usai dinas, dia berkegiatan produktif di rumah.

Warga Desa Gesikan RT 02 RW 02 Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, tersebut kini mengembangkan budidaya ikan nila dalam kolam bundar. Budidayanya terbilang sukses.

Kolam bundar diletakkan di halaman belakang rumah. “Sini kalau mau lihat. Cukup saya panggil Hallo, mereka ngumpul. Nggak percaya, ini lho lihat,” selorohnya sembari menjulurkan tangan yang langsung dikelilingi banyak ikan nila sebesar korek gas.

Budidaya ikan nila ternyata tidak perlu memiliki lahan atau kolam yang luas. Budidaya di kolam bundar pun produktif. Produktivitasnya tidak kalah di banding budidaya di kolam tanah. Pengendalian hamanya juga relatif lebih efektif.

“Saya punya enam kolam bundar untuk budidaya ikan nila. Untuk pembesaran memang banyak petani yang lebih condong ke kolam tanah, namun harus membutuhkan lahan yang luas. Saya kemudian mengembangkan kolam praktis, efektif, dan tidak memakan lahan luas yakni dengan kolam bundaran dari terpal,” ucapnya kemarin (8/4).

Kuat sudah lima tahun budidaya di kolam bundar. “Sangat praktis murah. Hasilnya cukup lumayan,” jelasnya.

Lima tahun lalu, Kuat membuat satu kolam bundar dengan diameter 3 meter. Modlanya kurang lebih Rp 2 juta. “Sekarang lebih murah lagi, paling Rp 1 juta sudah bisa buat kolam bundar. Satu kolam bisa diisi seribu ekor ikan nila sampai panen,” ucapnya.

Menurutnya, perawatan kolam bundar sangat praktis. Tidak perlu mengganti air. Sebab, ikan nila beda dengan lele yang cepat membuat air kolam keruh.

“Ini sudah sebulan (air) tidak saya ganti. Ada yang coba bisa lebih dari tiga bulan tidak ganti (air). Bisa dibantu dengan aerator atau dengan eceng gondok,” ujarnya.

Menurutnya, sekitar lima bulan lagi akan panen dengan ukuran nila bisa berisi 4 sampai 5 ekor satu kilogramnya. Ini sesuai permintaan pasar.

“Nila kalau terlalu besar juga sulit menjualnya. Untuk warung makan biasanya empat ekor satu kilo sudah masuk. Harganya sekarang sekitar Rp 25 ribu per kilogram,” ungkapnya.

Kuat menyatakan, kebutuhan pakan untuk nila lebih sedikit dibandingkan lele. Namun, harga jual nila lebih tinggi dibandingkan lele yang dipasaran berkisar Rp 19 ribu per kilogram.

“Pakannya lebih irit ini (nila). Kalau pakannya full, tidak sampai enam, bulan sudah bisa panen. Jenis nila yang saya budidayakan yakni nila gift, ada yang warnanya hitam, ada juga yang merah. Ikan ini besar maksimal bisa mencapai satu kilogram per ekor,” katanya.

Selama budidaya enam bulan, biasanya nila beranak. Anakan nila itu bisa dipindahkan ke kolam baru sehingga tidak perlu membeli bibit.

“Budidaya nila dengan kolam bundar ini tidak takut ancaman predator seperti ular, berang berang, atau ikan gabus. Untuk hama aman,” ucapnya. ***

Lainnya