Tari Adalah Napas, Bisa Mengutarakan Rasa

Tari Adalah Napas, Bisa Mengutarakan Rasa
SELALU GEMBIRA: Intan Wijaya bersiap membawakan tarian dalam sebuah kesempatan. (Intan Wijaya For Radar Purworejo)

RADAR PURWOREJO – Purworejo kaya penari bertalenta. Salah satunya seniman tari muda Intan Wijaya. Dia sangat mencintai tari dan pernah mengharumkan Purworejo hingga tingkat nasional.

Intan Wijaya menganggap tari sudah seperti napas hidupnya. Bagaimana tidak, perempuan 18 tahun itu sudah menggeluti seni tari sejak menduduki bangku taman kanak-kanak.

“Sudah sejak TK, kebetulan Ibu saya juga bisa nari. Kalau kata Ibu, dulu pas Ibu hamil saya, beliau sempat menari juga,” ungkapnya kepada Radar Purworejo Minggu (20/6).

Gadis kelahiran Purworejo 25 Desember 2002 ini terus berlatih. Bahkan, dia bergabung dengan Sanggar Tari Prigel Purworejo aktif hingga sekarang.

“Biasanya saya dipilih sanggar buat ngisi acara-acara. Kemarin, belum lama ini sanggar diminta buat nari di daerah Kaliurip dan kebetulan saya ikut,” kata gadis ayu asal Tlogokotes, Kecamatan Bagelen, ini.

Intan juga sering diminta mengisi beberapa event di kabupaten Purworejo. Di antaranya, menari di De Loano Glamping, Bandara YIA Jogjakarta, parade budaya hari ulang tahun Kabupaten Purworejo, hingga Gending Setu Legi.

Intan mengaku tak pernah bosan untuk terus berlatih. Kerja kerasnya membuahkan hasil gemilang. Dia dinobatkan menjadi juara pertama lomba Tari Gambyong Retnokusumo dalam ajang perlombaan tingkat nasional.

“Selama ini yang paling berkesan itu. Itu lomba yang diselenggarakan oleh ASGA (Akademi Seni Mangkunegaran) Surakarta, Maret 2021 ini,” ungkap dia.
Intan audah banyak meraih prestasi. Dia juga pernah menjuarai beberapa perlombaan saat duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

“Waktu SD itu ajang FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) waktu kelas 5 SD sekitar 2014. SMP juga sama, waktu kelas 7 pada 2017 dan kelas 8 pada 2018,” ujarnya.

Dia menuturkan, menari menambah semangatnya. “Meningkatkan semangat. Bisa mengutarakan rasa lewat menari. Bisa menciptakan rasa sesuai karakter menari yang dibawakan,” sebut Intan.

Menari bukan perkara mudah. Sebab, harus menghafal gerakan dan menyelaraskan rasa, irama, ketukan, dan sebagainya. Semuanya untuk menghasilkan gerakan yang luwes dan indah saat dipertontonkan.

“Alhamdulillah beberapa tarian, saya hafal. Memang lumayan susah. Kalau saya tergantung tariannya. Biasanya bisa tiga sampai empat kali latihan. Waktu itu juga pernah sistem kebut satu kali latihan,” beber dia.

Dia mengatakan tak ada kendala berarti saat menghafal tarian. Sebab, dia selalu melakukannya dengan rasa gembira dan tidak merasa dibebankan.

“Biasanya, awalnya sebelum tampil deg-degan karena takut kurang memuaskan. Tapi, alhamdulillah, saya bisa meredakan rasa deg-degannya. Karena, sebelum menari harus senang dulu sama tariannya,” ucapnya.

Intan berencana akan menggeluti dunia tari di studi lanjutnya. “Rencananya mau kuliah tari dan tetap lanjut menari. Saya selalu berharap seniman di Purworejo tidak pernah patah semangat dan selalu bangga menjadi seniman Purworejo,” ujar alumni SMA N 7 Purworejo itu. (amd)

Lainnya