Hutan Serut, Hiasi Komplek Pondok Pesantren Al Iman Bulus

Hutan Serut, Hiasi Komplek Pondok Pesantren Al Iman Bulus
HOBI: Wan Hasan Agil Ba'abud dengan koleksi bonsai di halaman depan rumahnya, (kanan). Dul Rokhim menunjukkan salah satu koleksi tanaman bonsai di rumahnya, kemarin (20/12). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Memelihara tanaman liar adalah salah satu cara bersyukur bagi Habib Hasan Agil Ba’abud. Mengasihi bonsai, dilakukan pengasuh Pondok Pesantren Al Iman Bulus, Gebang sama seperti mencintai sesama manusia.

Puluhan bonsai tertata apik di halaman depan rumah Wan Hasan. Sapaan akrab dari Habib Hasan Agil Ba’abud. Tanaman pilihan itu, menjadi pemandangan yang indah di tengah aktivitas ratusan santri yang khusyuk memperdalam ilmu agama.

Puluhan bonsai itu hanya sebagian saja. Saat memasuki bagian belakang rumah, ribuan bonsai akan memanjakan mata. Selepas mata memandang, yang ditemukan adalah hijau, asri dan sejuk. Retina mata siapa pun juga akan menangkap sebuah seni membentuk tanaman liar, hingga memiliki nilai artistik yang tinggi.

Beberapa batang pohon berukuran raksasa, dan di bawahnya tetap terbingkai dalam pot lengkap dengan media tanam. Sekilas ada aliran abstrak yang mendominasi bonsai koleksi Wan Hasan. Ribuan koleksinya, tidak bisa dilepaskan dari hobi. Tidak hanya dijual, bonsai sengaja dirawat untuk diberikan kepada tamu-tamunya.

“Sebab menurut saya sudah tidak ada hitungan angka untuk menghargai sebuah seni, dan memberikan sesuatu itu hukumnya yang terbaik,” ucap Wan Hasan, kemarin (20/12).

Harga bonsai yang mahal, karena dibutuhkan totalitas dari berburu dan merawatnya. Bisa dikatakan, toh nyowo (bertaruh nyawa) saat berburu bonsai di alam liar. “Ya! proses nyarinya saja sulit sekali, resikonya besar, makanya harganya juga mahal,” lanjutnya.

Wan Hasan memiliki beberapa pemburu yang jago mencari bakal bonsai. Tidak tanggung-tanggung di Kabupaten Purworejo, bonsai-bonsai berkualitas kerap mampir ke pondoknya sebelum jatuh ke kolektor lainnya. Tak jarang, bonsai yang sudah diambil harus dikembalikan lagi. “Proses mendapatkannya juga tidak mudah, tidak langsung petik di alam, harus melalui survei dulu. Belum lagi bagaimana cara membawanya,” ujarnya.

Diakuinya, banyak pemburu bonsai jenis serut dari Jawa Tengah yang datang menemuinya. Namun, tidak semua bonsai yang ditawar, dilepaskannya. Ada rasa eman saat akan menjualnya. Meski demikian, manusia tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan, “Transisi dari hobi ke bisnis itu sulit. Sebab yang dicari adalah kesenangan atau kepuasan,” bebernya.

Purworejo dan sebagian Kebumen, adalah endemik tanaman serut. Jika berbicara potensi usahanya, bonsai serut memiliki kekhasan tersendiri. Bakal bonsai yang masih kecil saja sudah diperhitungkan. Sebab bentuk dan gerakan tumbuhnya sangat alami.

Memelihara tanaman liar khususnya serut, bukan berarti pembenaran untuk memiliki keuntungan bagi petani. Sebab di kalangan petani, serut kadang dianggap sebagai tanaman hama atau gulma. Banyak yang menyuruh untuk mendongkel (mengambil) sampai akar-akarnya, karena mengganggu tanaman produktif.

Di kalangan orang Jawa, serut juga diidentikkan sebagai pohon yang digemari makhluk halus. Terlepas dari mitos, mistik atau sugesti. Namun sebagai umat muslim, Wan Hasan mempercayai keberadaan jin. “Niat kami tentu baik. Kami memahami ketika ingin memindahkan tanaman liar itu, kita rawat, kita pupuk dan lain sebagainya,” ujarnya.

Wan Hasan menilai, tidak mudah orang awam untuk menyukai bonsai. Sama seperti halnya hobi yang lain. Seseorang tentu harus melalui proses dari tahu, paham dan suka. Jika dikejar pertanyaan apa manfaatnya, jawabannya ya kesenangan. Kendati senang saja kadang belum cukup, karena juga tidak boleh menelantarkan koleksi.

Wan Hasan pun berharap, pecinta bonsai di Kabupaten Purworejo bisa lestari. Caranya banyak mengadakan pameran atau kontes sebagai wadah silaturahmi dan merajut jaringan. “Awal Covid-19 sempat turun, tapi sekarang mulai bangkit lagi, pameran atau kontes itu ladang bagi bisnis, karena disitu ada transaksi tingkat tinggi, nominalnya bisa puluhan bahkan ratusan  juta, itu kalau bicara potensi,” tuturnya.

Pecinta bonsai lainnya, Dul Rokhim mengakui kapasitas Wan Hasan di dunia per-bonsai-an, khususnya serut. Menurutnya, sebagai pecinta bonsai dan siapa saja yang ingin menekuni usaha ini syaratnya ada tiga. “Pertama senang dulu, kedua harus ulet dan ketiga jangan bosenan,” ucap Ketua KPU Kabupaten Purworejo ini. (tom/eno)

Lainnya