Belajar Otodidak, Berhasil Lukis Puluhan Tokoh Nasional

Belajar Otodidak, Berhasil Lukis Puluhan Tokoh Nasional
FOKUS: Seniman lukis bakar Trustoto, asal Desa Soko saat sedang menyelesaikan lukisannya, kemarin (27/12). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Seniman mendapat pukulan berat dari situasi pandemi Covid-19. Terlebih, produk seni merupakan kebutuhan sekunder. Sementara masyarakat kini masih fokus memprioritaskan kebutuhan pokok sehari-hari untuk bertahan hidup. Namun, hal ini tidak menghentikan langkah Trustoto.

Kayu Jati Belanda hanya diam tanpa perlawanan. Saat tubuhnya yang putih pualam disundut bara api dari ujung alat serupa solder. Tubuhnya kemudian ditemukan tergantung di sudut-sudut ruangan, menjadi hiasan dinding nan menawan. Trustoto yang lebih akrab disapa Toto menyebutnya sebagai seni lukis bakar atau phyrograph.

Memang belum lama Toto menekuni seni lukis bakar ini. Tepatnya ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat perekonomian masyarakat sedang lesu-lesunya. “Seni lukis bakar ini juga baru buat saya,” ucap lelaki 48 tahun warga Dusun Soko Legok, RT 01 RW 03, Soko, Bagelen ini.

Bapak dua anak ini bercerita, ide awal membuat seni lukis bakar stelah banyak seniman merasa terjajah pandemi. Toto merasa tertantang untuk menjawab masalah zaman dengan ketekunan. Keterampilan melukis di atas papan kayu, juga didapat dengan penuh perjuangan. Belajar secara otodidak, tidak mengunduh dari bangku sekolah.

“Pandemi ini datang benar-benar seperti penjajah, khususnya bagi seniman seperti saya. Kami sulit bergerak, situasi sulit masyarakat tentu lebih banyak memikirkan kebutuhan pokok dibanding karya seni yang sejauh ini dikenal sebagai kebutuhan sekunder,” keluhnya.

Baginya, seorang seniman tidak bisa berhenti. Harus berani mencoba hal-hal baru ketika dihadapkan dengan realitas kehidupan. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian menabrak pakem untuk mempertahankan eksistensi.

Benar saja, seni lukis bakar di desa Soko, bahkan di Kecamatan Bagelen atau lingkup Kabupaten Purworejo belum banyak. Sekalipun ada, masih bisa dihitung jari. “Saya sampai saat ini juga masih berjuang untuk memasarkan hasil karya saya, meskipun sudah ada puluhan lukisan yang laku terjual, dan beberapa masih dalam proses pengerjaan untuk pesanan,” ujarnya.

Pandemi membuat siapa saja harus berjuang lebih keras untuk bertahan hidup. Terlepas dari nama, kayu Jati Belanda dipilih bukan tanpa alasan. Jenis kayu ini dinilai lebih artistik. Hasilnya akan lebih jelas untuk media seni lukis bakar. Selain itu, kualitasnya juga cukup bagus. Tahan lama dan tidak mudah pudar.

Terlebih, kekuatan lukisan ini adalah bagaimana memunculkan gradasi warna putih dan hitam. Atau sisi gelap dan terang.  “Ya, cuma dua warna itu, putih dan hitam, nah sisi yang terbakar hitam akan menjadi garis atau gurat wajah sosok tokoh yang dilukiskan,” lanjutnya.

Sejauh ini, Toto sudah membuat puluhan karya. Kebanyakan adalah sosok pahlawan dan tokoh nasional yang sarat sejarah di masanya. Seperti Pangeran Diponegoro, tokoh pluralisme (Abdurrahman Wahid alias Gus Dur), sang proklamator  (Presiden Soekarno), dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Tidak hanya itu, Toto juga menerima pesanan lukisan foto diri. “Tokoh nasional bisanya saya buat untuk dipajang dan diperjual-belikan. Kalau pesanan biasanya foto diri. Waktu pengerjaan untuk satu lukisan sekitar 3 hari. Tergantung tingkat kerumitan dan ukuran,” ucapnya.

Harga bervariasi, sambung Toto, tergantung ukuran dan jenis kayu. Rata-rata ukuran yang dipesan 40×60 sentimeter dan 80×120 sentimeter. Kisaran harga mulai Rp 350 ribu hingga Rp 2 juta. Pembelinya tidak hanya lokal Purworejo, sebagian juga dari luar kota.

“Pernah dipesan orang Jakarta, Bengkulu. Belum lama ini pesanan dari Ngawi, Jawa Timur untuk lukisan Habib Luthfi. Kalau lokal biasanya foto diri. Pemasaran selama pandemi lebih efektif lewat online, meskipun beberapa kali mendapat pesanan saat pameran,” bebernya.

Ditanya kendala, Toto mengaku pemasaran menjadi masalah klasik bagi seniman. Bahan baku (Jati Belanda) juga masih harus didatangkan dari pengepul. Sementara untuk alat lukis dia membuat sendiri dan tergantung dengan aliran listrik. (tom/eno)

Lainnya