Tempat Persinggahan Orang-Orang yang Linuwih

Tempat Persinggahan Orang-Orang yang Linuwih

Radar Purworejo  Koordinator ODTW (objek daya tarik wisata) Gua Seplawan Kelik Danang Dono Rumeksa mengatakan, Gua Seplawan booming saat ditemukannya arca emas Dewa Siwa-Dewi Parwatipada Selasa Kliwon, 28 Agustus 1979.

“Sebenarnya sejak mbah saya dulu sering ke ladang, itu gua sudah ada. Ladangnya radius 50 meter dari mulut gua,’’ ujarnya saat ditemui Radar Purworejo, Jumat (15/1).

Kelik mengatakan, dulu penemuan arca tersebut bermula ketika dulu setelah adanya penemuan Gua Kiskendo. Gua tersebut mulut gua milik Kulonprogo. Sedangkan jantung gua milik Purworejo. Terjadilah persentasi bagi hasil yang alot.

Kemudian Camat Kaligesing menginstrusikan Lurah Donorejo pada waktu itu, Mbah Sastro. Yakni, untuk membuat obwis yang berbentuk gua. Karena di sini (Donorejo, Red) sangat berpotensi. Kemudian dibentuk tim berjumlah 53 orang termasuk Mbah Ngudiyo. Terdiri dari 50 orang dewasa, yakni menyusuri goa yang sekarang jadi jalur wisata. Kemudian, tiga orang pemudi di titik 500 meter itu masuk jalur kanan. Kemudian, mereka yang menemukan arca itu.

Selanjutnya, di 1982 itu mulai banyak penelitian termasuk dari Institut Teknologi Bandung. Dan, di kedalaman 50 meter sebelum batas wisata ada huruf Jawa Pallawa yang berbunyi “Safluwan”. ‘Saflu’ berarti suci dan ‘wan’ berarti manusia. “Nah nama Seplawan itu akibat dari pergeseran lidah Jawa, dari Safluwan menjadi Seplawan,” ujar dia.

Makna kata ‘Safluwan’ tersebut memiliki korelasi dengan adanya temuan di dalam gua. Seperti, arca emas dan sendang wening yang kono sering digunakan Sunan Kalijogo waktu menerima ilmu kanuragan dari Sunan Bonang. “Dengan bukti tersebut kemudian Seplawan dipercaya, dulu menjadi tempat bersinggah orang-orang yang linuwih (yang memliki kelebihan, Red),” ungkap Kelik.

Dikatakan, penemuan arca seberat 1,6 kilogram tersebut tepatnya di titik 500 meter jalur wisata, kemudian belok kanan. Dan, kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Tempat penemuan arca tersebut, saat ini sengaja tidak diberi penerangan dan tidak dijadikam sebagai jalur pengunjung. Sebab, dulu banyak stalaktit dan stalakmit yang hilang karena diambil pengunjung. “Kebetulan batu di situ (penemuan arca, Red) lebih bagus daripada yang untuk jalur wisata sekarang,” imbuh dia.

Di 1982 tersebut, Gua Seplawan juga ditetapkan sebagai situs cagar budaya. Karena terbukti memiliki banyak filosofi kehidupan. Mulai dari sopan santun hingga hidup itu banyak pilihan, dan sebagainya. “Di radius 50 meter dari mulut gua juga ada situs Lingga Yoni dan Candi Gondoarum. Lingga Yoni merupakan simbul alat vital pria dan wanita sangat erat hubungannya dengan arca Siwa-Parwati yang menyimbulkan kesuburan,” jelasnya.

Dari dulu hingga kini Gua Seplawan memiliki banyak perbedaan. Sebab, Gua Seplawan merupakan museum alam sehingga setiap tahun ada perubahan. “Baik dari stalaktit atau stalakmit itu juga banyak mengalami perubahan. Maka, banyak yang mengatakan Seplawan itu gua yang masih hidup. Sekarang, debit air dari stalaktit itu setiap detiknya 14 liter,” beber dia.

Disebutkan, kedalaman gua yang dijadikan jalur wisata yaitu 750 meter. Setelah lorong utama ada dua jalur, yaitu jalur kiri sebagai jalur wisatawan dan jalur kanan ada lorong yang biasanya digunakan untuk meditasi. “Biasanya sebelum bersemedi orang itu akan bersuci terlebih dahulu di sendang wening yang terletak di sebelum titik 500 meter batas wisata,” terangnya.

Kini obwis Gua Seplawan sudah sangat tertata dan indah. Dengan harga tiket masuk (HTM) yang terjangkau. “Sekarang saat weekday Rp 3 ribu per orang, hari libur Rp 4 ribu. Kemudian, parkir motor Rp 2 ribu dan mobil Rp 4 ribu. Jika ada wisatawan yang butuh pemandu pengunjung akan kena jasa pemandu yang dihitung sesuai trek. Masuk gua, ke situs Lingga Yoni, hingga gardu pandang itu Rp 75 ribu,” tandas Kelik. (han/din/er)

Lainnya